Kumpulan Cerpen Menarik ( cerita pendek ): cerpen romantis

Goodbye Marsya

Goodbye Marsya


Hi my name is Tulip, I have a neighbor her name is Marsya Anella Swish. I call her Marsya. Me and Marsya is best friend. But our school is different. Me and Marsya can communicate with Line, WeChat, and the other. I like to play at Marsya’s house.
Today is Sunday. I want to play doll or laptop with Marsya. When I look her house, she’s not there. I think she is go to somewhere with her family.
2 months passed…
I want to hang out with Marsya. But Marsya’s house is empty. No one there. I’m confused of that.
“Why Marsya is always go somewhere when I wanna play with her?!” I’m sad.
6 months passed…
Marsya’s house is full of many people. I confused and run to Marsya’s house.
“What happens here, uncle?” I asked to Marsya’s father.
“Marsya is pass away…” uncle said with a small voice.
“What? Marsya is die?!!! Marsya… don’t leave me alone… marsya…” I screamed with large voice.
“Goodbye, marsya” I’m crying so sad.

Bunga dari Ibu

Cerpen Bunga dari Ibu

   


       Karena jarak, kami hanya saling mengirim tanda lewat bunga. Ibu yang memulai dulu, waktu itu aku baru menempati rumah kecil yang sampai sekarang uang cicilannya masih menempati daftar potongan pertama di slip gajiku. Waktu itu ibu bilang, “Kamu tidak mungkin sering-sering mengunjungiku, kalau mau melihat keadaanku, lihat saja bunga ini.” Sambil berkata seperti itu, ibu menunjukkan padaku sebuah pot dengan tanaman bunga yang mungil dan indah. Lalu, aku meletakkannya di samping jendela kamarku. Begitu bangun pagi, tumbuhan itu yang pertama kulihat untuk memastikan keadaan ibu, baru kemudian aku menyiramnya ketika hendak berangkat bekerja.



Dalam perjalanannya, tanaman bunga itu memang bisa mengatakan keadaan ibu kepadaku. Suatu saat aku melihat beberapa kuntum bunga jatuh, dengan segera aku mengangkat telepon, memastikan keadaan ibu. Ternyata ibu sedang sakit flu. Ketika suatu pagi kulihat beberapa daunnya yang masih hijau rontok, aku mendapati kabar bahwa ibu sedang bersedih karena seorang pencuri telah memasuki rumahnya dan membawa lari televisi kesayangannya. Dan ketika suatu saat aku melihat pohon itu dipenuhi oleh bunga- bunga yang bermekaran, teleponku berdering, ibu mengatakan bahwa kemarin ia mendapat hadiah dari bank tempatnya menabung. Aku pernah lupa memeriksa pohon itu, ketika ibu tiba-tiba meneleponku memintaku untuk pulang, aku sangat kaget. Ibu waktu itu hanya bilang. “Kamu tidak memeriksa bunga dari ibu, ya?” Dengan agak rikuh aku menjawab hari ini aku lupa. Lalu, ibu bilang. “Pulanglah, ibu sedang bersiap untuk naik haji tahun ini.” Tentu saja aku sangat gembira. Begitu telepon kututup, aku berlari membuka jendela, pohon bunga yang ditanam ibu seperti dikerudungi cahaya.
Belajar dari itu semua, ketika aku pulang, aku menanam sebatang tanaman bunga tepat di samping jendela kamar ibu. Ibu tersenyum saat aku bilang, “Bu, pohon ini akan mengatakan kepada ibu bagaimana keadaanku.”
Di luar dugaanku, pohon bunga yang kutanam itu benar-benar memberi isyarat pada ibu tentang apa yang sedang kuhadapi. Sewaktu aku sedang dipromosikan naik jabatan, ibu menelepon untuk menanyakan keadaanku. Lalu, aku pura-pura bertanya mengapa ibu bisa meneleponku pagi-pagi benar. Ibu bilang, pohon bunga yang kutanam terlihat segar dan banyak bunga yang sedang mekar. Sewaktu aku diputus cinta oleh Randy, ibu juga meneleponku, ada banyak bunga dan daun yang rontok sehingga ibu resah. Terakhir, ketika aku sedang berpikir keras untuk memutuskan apakah aku harus menggugurkan kandunganku karena Mas Rustam, kekasihku yang baru, ternyata sedang mendapatkan tugas ke luar kota dalam waktu yang agak lama dan dia terganggu dengan keadaanku yang sedang mengandung, ibu juga menelepon. Ibu bertanya, “Kamu sedang tertimpa masalah? Pohon yang kamu tanam terlihat layu.”
Ketika aku sudah mengambil keputusan untuk menggugurkan bayiku dan di sebuah malam Mas Rustam menelepon dari luar kota dengan membawa kabar buruk, ia harus menikahi anak bosnya karena hamil, pagi harinya ibu datang dengan pesawat paling pagi. “Ibu khawatir sekali, pohon bungamu tadi terlihat seperti mau mati.”
Hubunganku dengan ibu sangat unik. Aku anak tunggal. Bapakku bercerai dengan ibu ketika aku baru saja lulus dari SMA. Mereka bercerai dengan baik-baik. Ibu pernah bercerita bahwa dulu ia diusir oleh keluarganya karena berpacaran dengan laki- laki yang berbeda agama. Dasar ibu, ia pergi saja dari rumah bersama laki-laki itu. Lalu, mereka menikah dan ibu melahirkanku. Ibu juga pernah bercerita, ia anak pertama dari tiga bersaudara. Dua adik laki-lakinya juga pergi dari rumah, yang satu pergi dari rumah karena membobol gudang pertanian, menjual alat-alat pertanian dan hasil panen, serta membakar rumah penggilingan padi orangtua mereka. Ibu bilang, adiknya yang satu itu memang “kiri”. Alat-alat pertanian dan hasil panen orangtua mereka dijual untuk membiayai aktivitas organisasinya untuk melawan Orde Baru. Sedangkan penggilingan pagi orangtuanya dibakar oleh adiknya karena ia kecewa melihat cara pengupahan orangtua mereka terhadap orang-orang yang bekerja di lahan pertanian orangtua mereka, dan puncaknya pembakaran itu terjadi ketika adiknya ibu diusir dari rumah. Bapaknya ibuku bilang, “Di rumah ini tidak boleh ada komunis.” Adiknya ibuku marah, paginya, rumah penggilingan padi itu dibakarnya.
Adik satunya lagi, yang paling kecil, juga diusir dari rumah orangtuanya ibuku. Sejak kecil, adiknya yang paling kecil itu memang sudah suka yang aneh-aneh. Ia biasa tidak pulang ke rumah hanya karena pergi memancing di sebuah tempat selama berhari-hari. Ia juga sering tidur di kuburan tokoh-tokoh tertentu. Ia pergi begitu saja dari rumah tanpa membawa apa-apa selain alat memancing ikan, ketika bapaknya ibuku bilang, “Di rumah ini tidak boleh ada orang yang belajar klenik dan menganut ilmu hitam.”
Ibuku, sekalipun anak pertama, adalah orang yang terakhir pergi dari rumah orangtuanya. Kadang-kadang ibu bilang kepadaku. “Kamu seharusnya mengenal kedua pamanmu, mereka berdua menyenangkan sekalipun kadang-kadang memang agak brengsek.” Di mana mereka berdua sekarang, ibu tidak pernah tahu dan sepertinya tidak pernah mau tahu.
Ibuku memang agak aneh, tapi baik hati dan membanggakan. Aku mengalami masa-masa kecil yang menyenangkan dan mendebarkan. Ibuku rajin shalat dan pergi ke pengajian, bapakku rajin ke gereja, tapi aku tidak pernah disuruh untuk masuk ke salah satu agama, baik agama ibuku maupun agama bapakku. Ketika bulan puasa tiba, dan teman-temanku berpuasa, aku tidak puasa. Mereka mengira aku beragama sama dengan bapakku. Tapi ketika Lebaran tiba, aku ikut Lebaran, dan jika teman-temanku bertanya, aku menjawab kalau aku baru saja pindah agama. Kedua orangtuaku hanya tersenyum melihat tingkahku.
Ibuku marah pada sesuatu yang dulu menurutku aneh. Ia pernah marah ketika aku pulang sekolah dan memamerkan hasil tes bahwa aku mendapat nilai terbaik. Lalu, ibuku bertanya, berapa nilai teman-temanku? Aku menjawab dengan nada bangga kalau sebagian besar nilai temanku di bawah lima. Ibu langsung marah dan berkata, “Lain kali jangan pamerkan kehebatanmu jika temanmu tidak mendapatkan nilai yang sama baiknya denganmu!” Aku langsung mengadukan itu ke bapak dan bapak bilang, maksud ibuku lain kali menjadi tugasku untuk membuat teman-teman sekelasku bisa mengerjakan sepertiku atau bahkan memberi contekan. Tentu saja aku kaget.
Aku juga pernah dimarahi ibu ketika suatu saat kami berlibur dan jalan-jalan ke luar kota. Di sebuah trotoar, ada seorang pengemis dan ibu bilang. “Beri dengan uangmu.” Lalu, ibu melenggang pergi. Aku memeriksa sakuku dan tidak kutemukan uang receh, lalu aku menyusul ibu dan mengatakan bahwa aku tidak punya uang receh. Ia langsung menghentikan langkahnya dan bersuara marah, “Apakah ibu mengajarimu memberi uang hanya dengan recehan?!” Dengan segera aku balik karena kesal dan memberikan semua uangku pada pengemis itu. Aku berharap nanti ibu akan bertanya dan marah padaku karena aku memberikan semua uangku. Dan aku ingin membalas marah padanya, “Lho katanya tidak boleh uang receh?!” Tapi sayang, ibu tidak pernah menanyakannya.
Pernah sewaktu aku kecil, sepulang sekolah, teman-teman laki-lakiku sepanjang jalan menggodaku. Mereka bilang, kelak aku akan masuk neraka. Aku lalu teringat komentar ibuku saat menonton televisi, “Ah, mereka sok tahu tentang surga dan neraka.” Aku lalu mengutip kalimat ibuku, “Ah, kamu sok tahu tentang surga dan neraka.” Mereka marah, tas dan jepit rambutku ditariknya. Aku pulang dan menangis. Sampai di rumah, aku mengadu sama ibu yang sedang membaca buku. Ibu lalu bertanya, “Kamu merasa perlu melawan mereka atau tidak?” Aku menjawab perlu. Lalu ibu bilang. “Kamu berani atau tidak?” Aku menjawab, aku berani, tapi aku kan perempuan dan jumlah mereka banyak. Ibu menutup buku yang dibacanya. “Lalu, kenapa kalau perempuan?” Aku bilang, ya aku akan kalah. Ibu bilang, “Bagaimana kamu tahu kalau kamu akan kalah jika kamu tidak pernah mencoba melawan mereka.” Aku diam. Lalu, ibu berkata, “Bagaimana kalau kamu datangi lagi mereka karena mereka banyak, kamu pakai saja batu atau sapu.” Aku segera bangkit mengambil sapu, di tengah jalan aku mengumpulkan batu. Dari jauh aku sudah melempari mereka dengan batu dan ketika dekat aku menggerak-gerakkan sapu untuk memukuli mereka. Mereka lari, dan tidak pernah berani lagi menggangguku.
Hubunganku dengan ibu dan bapakku tetap hangat sekalipun mereka berdua telah cerai. Anehnya, ibuku tidak menikah lagi dan bapakku juga tidak menikah lagi. Dan, aku tidak ambil pusing dengan sebab-musabab kenapa mereka bisa cerai. Hubungan kami bertiga kurasakan sangat hangat saat-saat aku hampir putus kuliah dan saat itu sebagaimana banyak mahasiswa aku terlihat demonstrasi menentang rezim Orde Baru.
Hampir setiap hari, ibuku dan teman-temannya, baik tetangga kami maupun teman-teman pengajian ibuku, menyuplai kami dengan makanan bungkus dan air minum. Bahkan, ibu selalu menelepon bapakku untuk ikut membantu lewat teman-teman sekantornya. Di saat-saat seperti itu, ibu sering berkata, “Semoga kamu ketemu dengan pamanmu.”
Aku tidak pernah bermasalah dengan masa kecilku di mana aku dibesarkan oleh orangtua yang berbeda agamanya dan masing-masing menjalankan keyakinannya. Aku bisa tumbuh dengan keyakinanku sendiri tanpa pernah dipaksa. Aku juga tidak pernah bermasalah dengan orangtuaku yang bercerai, hubunganku dengan ibu maupun bapakku tidak bisa dihalang-halangi oleh perbedaan hubungan mereka sekarang. Aku mempunyai hubungan yang manis dengan mereka, masa lalu yang memberi lahan bagi rasa rindu, dan masa sekarang yang bergerak tidak untuk menjauhi perasaan-perasaan masa laluku.
Mereka berdua masih tetap memberi semangat, juga ketika tahun-tahun kecewa menderaku. Tahun-tahun di mana aku menjadi saksi ketika banyak aktivis mahasiswa yang dulu heroik kini lembek di tangan-tangan elit politik untuk mendukung langkah- langkah elit mereka. Kami bertiga juga melewatkan masa-masa menyenangkan ketika kami berkumpul di saat orang-orang sibuk melakukan coblosan pemilu. Kami makan bersama, menonton televisi, membaca koran, bercengkerama, memberi komentar sambil melihat monitor-monitor televisi yang bergerak menyampaikan angka-angka perolehan suara. Dua kali pemilu kami lewati dengan hangat tanpa ada keinginan untuk membohongi perasaan kami masing-masing, perasaan yang tidak kunjung mengerti mengapa banyak orang yang berbondong-bondong mengantre di kotak-kotak suara, memberikan suara mereka tanpa jelas lagi di mana arah perubahan. Kami menjadi saksi yang mencoba untuk tetap hangat menerima kenyataan politik yang sesungguhnya tidak pernah berubah.
Di antara kami, aku dan ibuku, jarang sekali saling menyimpan rahasia. Terutama aku. Ibu hampir tahu semua kisahku, baik dalam hal percintaan maupun urusan kantor. Aku tidak butuh bantuan untuk semua hal yang kulalui, hanya saja bercerita pada ibu adalah sesuatu yang sudah kuanggap menyelesaikan banyak hal. Namun, sampai sekarang, aku tidak pernah berani bercerita pada ibu kalau aku pernah menggugurkan bayi dalam kandunganku, aku takut ibu akan marah. Sekalipun aku tidak yakin kalau ibu akan marah.
Kemarin pagi, aku kaget sekali. Saat aku membuka jendela, aku mendapati bunga yang ditanam ibu seperti akan mati. Tiba-tiba rantingnya seperti mengering dan daun-daun serta bunganya rontok berjatuhan di sekitarnya. Dengan segera aku menelepon ibu. Agak lama telepon tidak diangkat dan itu semakin membuat hatiku berdebar khawatir. Untunglah setelah beberapa kali tidak diangkat, kudengar suara ibu menyahut. Dengan segera aku menanyakan kabar ibuku. Anehnya, ibu menjawab tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa? Lalu, aku bilang tidak mungkin, bunga yang ditanam ibu seperti sekarat. Ibu tetap bilang bahwa tidak ada apa-apa. Rasa kesal, marah, kecewa, tiba-tiba memuncak di diriku. Aku membanting telepon, lalu pergi ke tempatku bekerja.
Di kantor, perasaanku semakin tidak enak. Akhirnya aku bilang ke atasanku untuk minta izin menengok ibuku dengan alasan ibuku sakit. Esoknya, dengan pesawat paling pagi, aku berangkat.
Tentu saja ibu kaget melihat kedatanganku. Setelah kami sarapan berdua, aku mencoba dengan berbagai cara agar ibu mau berterus terang tentang masalahnya. Tapi, ibu tetap bersikukuh untuk mengatakan bahwa hidupnya baik-baik saja. Tapi, aku juga ngotot, aku bilang, tidak mungkin, sebab bunga yang ditanam ibu mengatakan sebaliknya. Dengan tenang ibu menjawab, “Bunga itu ternyata tidak bisa dibuat patokan keadaanku.”
Aku diam. Dalam hatiku, aku merasa sangat kecewa. Aku bangkit, lalu berjalan-jalan di dalam rumah dan di sekitar rumah. Segalanya memang tampak baik-baik saja, ruang tamu, ruang keluarga, kamar-kamar, dapur, halaman belakang, semua baik-baik saja. Tapi aku kaget ketika melewati tempat di samping kamar ibu. Aku tidak melihat tanaman bungaku. Dengan segera aku mendatangi ibu yang sedang membereskan piring-piring di meja makan.
“Bunga yang kutanam di mana, Bu?” Ibu menoleh, meletakkan piring-piring di atas meja, lalu duduk. “Kan sudah ibu bilang, bunga itu sudah tidak bisa mengatakan keadaan kita masing-masing. Kamu ingat, kan… ketika ibu datang pagi-pagi karena melihat bunga yang kamu tanam terlihat mau mati? Ternyata kamu tidak sedang ada masalah apa-apa. Pulang dari rumahmu, aku mencabut bunga itu.”
Aku kembali diam. Esok harinya, aku langsung pulang. Sampai di rumahku, tanpa berpikir panjang, aku mencabut bunga yang ditanam ibu. Dalam hati aku berkata, setiap orang boleh punya rahasia.

Ketika Sunyi Mengusik Sepi

Cerpen Ketika Sunyi Mengusik Sepi


       Satu dua langkah ia berjalan mondar- mandir di depan jendela. Di luar gerimis turun perlahan mengusapkan kabut ke kaca. Sesekali ia menoleh ke kartu undangan kawin yang bertaburan di atas meja dan kemudian ia duduk menghadap meja dan membolak-balik kartu-kartu undangan itu. Bermacam-macam bentuk kartu itu, ada yang berlipat dua, tiga, dan ada pula yang hanya satu halaman saja. Sampulnya aneka ragam berlukisan dua ekor burung, ada yang gambar calon pengantin, ada pula yang bermotif kain batik dan rumah adat dan pakaian adat. Menarik dan indah. Berulang-ulang ia membaca kata-kata yang tertera di dalam kartu undangan itu, di dalamnya terdapat kata-kata yang manis, kutipan dari Kitab Suci, nama yang dihiasi dengan gelar-gelar, teks yang berbahasa Inggris, Indonesia, dan daerah. Kata, kalimat, huruf, merupakan pilihan yang indah, sangat sopan, dan sarat dengan kata klise.


Telah lama ia mengimpikan kartu undangan seperti itu, impian untuk membuatnya, bukan sekadar menerima. Suatu kali ia mengeluh kepada seorang kawannya, “Ah, hidup ini tidak adil. Dalam usia setengah abad ini saya belum pernah mengedarkan undangan, hanya menerima saja. Rasanya, semakin banyak utang saya.”
Kawannya tersenyum dan berkata, “Segala sesuatu ada waktunya, sabarlah.”
“Mereka sudah besar-besar semua. Sudah ada yang tamat dari perguruan tinggi. Tetapi mengapa mereka belum menemukan jodoh?”
“Jodoh dari Tuhan,” sambung kawannya.
“Selalu begitu. Kata-kata itu selalu menggema dari waktu ke waktu. Dari setiap mulut orang. Meluncur begitu saja. Apa tidak ada kata yang lain?”
Dialog terhenti di situ. Kawannya tidak berani melanjutkan karena ia takut tersinggung. Setiap orangtua ingin anak-anaknya menikah setelah dewasa, apalagi sudah mulai berumur. Barangkali itu naluri. Naluri yang menjadi obsesi setiap keluarga.
Sekarang, ia memilih-milih undangan mana yang paling menarik, paling cantik, dan paling mengesankan. Tidak tampak seragam. Hatinya ingin sedikit berbeda dan hendak menciptakan sesuatu yang sederhana namun lain daripada yang lain. Ada bahasa daerahnya, ada bahasa Indonesia, dan tentu saja ada bahasa Inggrisnya. Bukankah pernikahan putrinya akan dilangsungkan di Los Angeles?
Sejak istrinya menunjukkan surat pendek itu kepadanya, hatinya selalu bersyukur, seperti mendapat durian runtuh. Ada sebuah tembok yang runtuh dari dalam dirinya, tembok yang memisahkannya dari masa depan. Dan ke depan, masa depan itu sudah terbuka lebar. Orang-orang tidak akan mencemoohnya lagi, kapan ia akan memberikan undangan karena putra putrinya sudah dewasa dan tamat dari berbagai perguruan tinggi. Dadanya merasa lapang seakan-akan oksigen mengalir dengan lancar, sejuk dan nyaman.
Dari balik kaca meja itu ia mengambil surat pendek dari putrinya.
“Ibu dan Bapa yang kusayangi. Kami berniat menikah tiga bulan di depan. Kami mengharapkan kehadiran Ibu dan Bapa. Tiket akan kami kirimkan dengan segera. Kami akan sangat berbahagia kalau Bapa dan Ibu merestui pernikahan kami. Salam dari ananda, putrimu.”
Pertama kali menerima surat itu ia bertanya kepada istrinya, “Anak kita mau kawin dengan siapa?”
Istrinya menjawab, “Dengan orang kita juga.”
“Marga apa?”
“Ah, pusing amat dengan segala marga. Asal jangan dengan bule saja!”
“Apa salahnya dengan bule?” tanyanya.
“Ya, hilang dong!” jawab istrinya. “Budaya saja sudah menjauhkan kita.”
“O, begitu.”
“Ah, bapa ini bagaimana. Kita harus mensyukurinya.”
Ia perhatikan istrinya sudah mulai sibuk bertanya ke sana ke mari, bagaimana cara mengadakan pesta pernikahan. Apa- apa saja yang harus disediakan.
Berulang-ulang ia membaca surat putrinya. Surat singkat yang sarat dengan harapan hidupnya selama ini. Sekalipun surat itu pendek, itu sangat membahagiakannya. Rasa sunyi selama ini berangsur meredup, bunga-bunga harapan mulai menguncup. Kerinduan untuk memomong cucu sudah lama dipendamnya. Kini harapan itu mulai berbunga-bunga. Orang yang lebih muda dari dia sudah memiliki beberapa cucu, dia belum. Tiap kali orang menanyakan kepadanya kapan akan memiliki cucu, selalu dijawabnya dengan jawaban menghindar, “Akan ada waktunya.” Padahal pertanyaan itu sebenarnya amat menggusarkan hatinya. Selama ini ia senang berkumpul dengan anak-anaknya yang lima orang. Senang melihat mereka semua sehat-sehat dan berambisi mau ini dan itu. Tetapi tiap kali ia menanyakan kepada mereka kapan membentuk keluarga sendiri, selalu dijawab, “Ah, Bapa ini rupanya sudah bosan melihat kami.” Hal ini pun membuatnya merasa sunyi dan lebih banyak berdiam diri soal itu. Lagi pula, sejak mereka belajar di perguruan tinggi dan di luar negeri, ia dan istrinya kembali ke dalam suasana sunyi dari hiruk-pikuk anak-anak. Kembali berdua sejak menikah tiga puluh tahun yang lalu. Benteng kesunyian itu semakin mendalam ketika istrinya ikut anaknya ke Amerika dan tinggal di sana beberapa tahun. Hanya untuk “menjaga” dan memberi kemungkinan “masa depan” anaknya, harus meninggalkannya, seorang diri di rumah, di Tanah Air. Adapun ketika ia menyusulnya, dan tinggal di sana setengah tahun, itu tidak membuat benteng kesunyian itu runtuh atau retak karena ia pun mengingat anak-anaknya yang lain yang tinggal di Tanah Air. Ia kembali seorang diri karena istrinya berharap putrinya tamat dan ada yang melamarnya. Ketika saat penantian itu berlalu, istrinya kembali dan tinggallah mereka berdua di rumah. Hanya ketika musim libur, anak- anak kembali ke rumah.
BAGI yang menikah, perkawinan adalah sebuah tujuan untuk mencari kebahagiaan, memenuhi kodrat sebagai manusia, yang sukar dihindari. Pikiran mereka tertuju kepada hari yang penuh kebahagiaan itu, yang harus diawali dengan upacara sakral sesuai dengan keyakinan, bahwa manusia sesungguhnya menuruti petunjuk Tuhan. Manusia mewarnai jalan menuju upacara ini dengan hal-hal yang rinci, sarat dengan emosi, dan terikat kepada norma, kaidah, dan rambu-rambu lintas budaya yang sukar dilalui. Sejumlah aturan yang sesungguhnya tidak ada kaitan dengan tujuan pernikahan itu muncul ke permukaan, lalu syarat-syarat tertentu saling melengkapi dan harus dipenuhi. Tanpa itu, jangan harapkan pernikahan akan berjalan dengan lancar. Kecuali kedua hati yang muda itu, dengan berani menempuh jalur-jalur jalan berduri dengan “kawin lari” dan yang lain-lain tidak dipedulikan, sekalipun jalan itu membuat rasa malu kepada ayah dan ibunya-karena ayah dan ibunya mengingkari utang yang selama ini mereka terima melalui undangan- undangan dari kenalan-yang tidak “terbayar” olehnya.
Seperangkat pakaian adat dan undangan tercetak dalam tiga bahasa sudah disiapkannya dan dimasukkan ke dalam koper. Ia tidak mau kehilangan momentum yang sangat ditunggu- tunggunya itu. Apa pun biaya dan risikonya, ia mau supaya perhelatan ini sukses. Sukses untuk anak pertama adalah awal yang baik untuk sukses bagi anak-anak berikutnya. Menurut calon besannya, “adat penuh” pun akan dilakukan, sekalipun itu di negeri asing. Adat baginya, adalah bayang-bayang dirinya, sekalipun ia sendiri benci bayang-bayang, yang selama ini jarang diperhatikannya karena Matahari kota membuatnya jarang berjalan di panas terik-dan selalu berada di atas kendaraan pribadi maupun umum. Adat, adalah bagaikan sebuah topi yang harus dikenakan ketika Matahari menggigit ubun-ubun. Manusia yang terlahir di dalam lingkup adat sukar melepaskan diri dari simbol-simbolnya walaupun itu harus dibayar dengan harga mahal. Perkawinan memang sangat bersifat privasi, tetapi melibatkan komunitas dari rumpun marga yang berbeda. Lalu lahirlah pelangi keluarga. Itukah kebahagiaan itu? Akhirnya ia tiba pada kesimpulan bahwa kebahagiaan harus dibayar dengan harga yang mahal!
Upacara adat yang melelahkan berlangsung di Los Angeles (LA) di rumah kerabat dekat yang merelakan tempat, waktu, dan simpati maupun empati, sesuatu yang sangat sulit diperoleh di LA. Ia harus mengorbankan kamar tidur anak-anaknya demi menampung orang-orang yang menghadiri upacara adat sebelum pesta pernikahan itu sendiri dilakukan. Betapa pun singkatnya, betapa pun mereka itu berpikir praktis, toh upacara itu melelahkan. Tapi itu baru pendahuluan. Sesudah resepsi, masih dilanjutkan dengan “adat penuh” yang membuat orang-orang asing tercengang dan geleng-geleng kepala. Mungkin bagi mereka, jenis upacara itu sebuah hal yang amat mistis dan magis. Penuh dengan simbol dan retorika yang sarat repetisi.
Protokol pada upacara pernikahan menguraikan acara pernikahan dengan bahasa Inggris yang transparan bagi kuping orang Timur. Barangkali bagi kuping penduduk pribumi alias bule yang banyak juga hadir pada upacara pernikahan, bahasa Inggris yang demikian adalah bunyi simfoni dialek karena sesekali diselingi dengan pepatah-petitih bahasa leluhur. Mereka mengangguk-angguk, mungkin tanda kagum.
Usai resepsi, upacara adat berlangsung. Kata-kata indah berhamburan dari bibir- bibir yang berbahasa ibu. Tampaknya pengucap kata itu sendiri “hanyut” dalam emosi, mungkin sekali ia rindu tanah air karena suaranya gemetar menimbulkan rasa haru. Uang-uang rupiah berbaur dengan uang dollar. Orang-orang menari dan menari. Ada band yang mengiringi dengan lagu-lagu syahdu, dalam bahasa ibu yang membuat orang-orang Amerika, Filipina, dan China larut dalam mimpi oriental yang magis dan sunyi. Lagu-lagu cinta dalam bahasa ibu dan sesekali lagu cinta dalam bahasa Inggris.
Ayah pengantin perempuan yang paling berbahagia. Ia tersenyum terus menerima salam dari hadirin. Lunaslah sudah utang-undangan-pernikahan yang selama ini selalu diterimanya. Riak-riak kegembiraan yang muncul di wajahnya menandakan sunyi hati yang selama ini terpendam, pudarlah sudah. Ia berharap, beberapa tahun mendatang seorang cucu telah dapat ditimang-timangnya.
Beberapa bulan sesudah pernikahan putrinya yang pertama, ia mendengar kejutan baru dari istrinya.
“Kudengar dari putri kita, mereka tidak ingin cepat-cepat punya anak. Mereka belum siap karena penghasilan mereka belum memadai. Lagi pula, kata mereka, biaya merawat seorang anak cukup mahal. Kalau mereka punya anak, mereka akan keluar dari apartemen ini. Apartemen ini khusus bagi penghuni yang belum punya anak.”
“Bukankah Tuhan akan mencukupkan keperluan hidup mereka? Kalau perlu, kau tinggal di sini dulu, untuk menjaga dan merawat anak mereka,” jawabnya.
“Justru mereka tidak mau merepotkan orangtua, dan tidak mau direpotkan orangtua,” katanya.
“Maksudmu?”
“Mengurus anak itu tidak gampang, Pak. Mantu kita harus bekerja siang hari, putri kita juga. Nanti kalau ada anak, mereka terpaksa harus cari pekerjaan siang dan malam, silih berganti supaya dapat menjaga anak. Untuk itu, mereka belum siap. Begitu menurut mereka.”
Ia manggut-manggut. Harapan yang sudah mulai berbunga-bunga beberapa bulan lalu mulai melayu. Belum membentuk arah pembuahan. Hanya bunga-bunga yang menguncup dan kemudian melayu dan redup, gugur ke tanah.
Berbulan-bulan tembok kesunyian mulai terbangun di dalam dirinya. Ia jarang bertemu dengan orang. Masing-masing sibuk dengan diri sendiri. Anak dan mantunya, kalau sudah pulang kerja- yang kadang-kadang larut senja karena lembur-langsung tidur dan pagi-pagi sekali sudah bangun dan berangkat ke tempat kerja. Tidak ada lagi kunjungan ke taman hiburan semisal Disneyland atau Hollywood. Hanya sesekali ke pantai LA atau pertemuan singkat ibadah di gereja. Hidup menjadi monoton antara bangun tidur, makan, nonton TV, jalan-jalan di sekitar rumah. Siklus yang sangat menjemukan.
Setelah lima bulan di LA, kejutan baru muncul dari istrinya.
“Pak, anak kita menanyakan kapan kita akan kembali.”
“Oh ya?” jawabnya. Memang pikiran itu pernah timbul di dalam benaknya. Ketika pertanyaan muncul dari bibir anaknya sendiri, maknanya menjadi lain. Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apakah ini karena putrinya dapat mengajuk pikirannya ataukah ungkapan atas rasa ketidaksetujuannya atas kehadiran mereka di sana? Apakah mereka menjadi beban bagi anak dan mantunya?
Ia tidak menjawab istrinya. Tidak juga timbul niat di dalam dirinya untuk bertanya kepada putrinya. Takut kalau- kalau begitulah kenyataan yang sebenarnya. Ia takut menghadapi kenyataan seperti itu. Pikiran yang muncul dalam benaknya ialah, pernikahan itu sudah berlangsung. Rumah tangga anaknya sudah terbentuk. Barangkali tugas mereka sudah selesai sampai di situ. Selebihnya, adalah kerisauan dan gangguan-gangguan hati nurani tidak pantas ditanyakan. Ia ingat burung- burung. Burung yang sudah layak terbang, ya, membentuk sarangnya sendiri. Burung itu sudah menjadi masyarakat burung, tak lagi bergantung kepada induknya. Kita tidak tahu apakah anak burung mengucapkan terima kasih kepada induknya karena telah memeliharanya. Kita juga tidak tahu apakah induknya pernah merasa kecewa.
Pada suatu tengah malam, ketika ia terbangun, ia membangunkan istrinya.
“Besok kita berangkat pulang,” katanya.
Istrinya mengusap-usap matanya dan kemudian berkata, “Apakah saya bermimpi?”
“Tidak,” jawabnya, “Kau tidak bermimpi.”
“Oh ya? Apa kaubilang tadi?”
“Besok kita pulang. Anak-anak di Tanah Air lebih memerlukan perhatian kita.”
“Begitu cepat?”
“Sudah waktunya,” katanya, “rasanya anak dan mantu kita kurang memerlukan kita di sini.”
“Kau terlalu perasa.”
“Mungkin ya, mungkin tidak. Dunia mereka berbeda dari dunia kita. Sebaiknya kita pulang saja.”
Keesokan harinya, anak dan mantunya mengantar mereka ke airport. Setelah pesawat tinggal landas, ia berkata kepada istrinya, “Nah, kau perhatikan tadi, bukan? Ketika kau mengatakan bahwa kita akan pulang, mereka segera konfirmasi pesawat dan sore ini kita berada di dalam pesawat ini? Mereka tidak mengucapkan kata basa-basi mengapa pulang mendadak. Tidak ada kata tanya. Tidak ada kata terima kasih karena kita telah menemani mereka di rumah setelah upacara pernikahan mereka…”
Istrinya mengunjurkan kaki dan menyandarkan punggungnya ke kursi yang dilengkungkan ke belakang. Sambil memejamkan matanya, acuh tak acuh ia menjawab, “Kau terlalu mudah tersinggung. Budaya penduduk negeri ini telah menjadi budaya hidup mereka. Mereka hidup di sini, dan untuk itu, mereka harus menyesuaikan diri dengan situasi. Mereka adalah pekerja keras dan kita patut menghargai mereka.”
Ia mencoba melihat ke awan-awan di luar lewat jendela kaca. Perjalanan panjang menuju Tanah Air sedang berlangsung. Rasa sunyi yang lain mengusik sepi yang mulai melekat dalam lubuk hatinya.
Entah berapa lama ia tertidur, tiba-tiba ia terbangun karena pesawat terasa seperti berjalan di atas batu-batu, seperti pedati. Pramugari memberitahukan bahwa pesawat melintasi perubahan hari-batas siang dan tengah malam yang pekat.
Dan sunyi itu, semakin dalam mengendap dalam perjalanan enam belas jam yang menjemukan.

Ajaran Kehidupan Seorang Nenek

Cerpen Menarik : Ajaran Kehidupan Seorang Nenek


        Jauh-jauh aku datang, dimulai hari pertama aku sudah mendapat kekecewaan.
Ibu tidur di kamar Puspa, tapi tidak boleh menggendong dia,” kata anak sulungku.
“Kalau dia terbangun dan menangis?”
“Biarkan saja! Anakku tidak kubiasakan digendong.”
Seolah-olah dia tidak yakin bahwa aku mengerti kata-katanya, anakku mengulangi, nada suaranya terkesan mengancam,
“Betul lho, Bu! Jangan sampai begitu Ibu pulang, aku direpoti anak manja dan terlalu minta diperhatikan!”
Barangkali karena kaget, aku terdiam. Bayangkan! Hanya ibuku yang seharusnya berhak berbicara dalam nada seperti itu kepadaku. Aku tersinggung. Semakin umur bertambah, sakit hati semakin sering kualami.
Aku direktris suatu rantai usaha swadaya yang boleh dikatakan sukses. Semua karyawan di tempatku hormat kepada, berbicara nyaris kuanggap berlebihan terlalu sopan bagiku. Di saat-saat mengunjungi perusahaan atau kantor lain, orang-orang menerimaku dengan sikap dan pandang ering 1) yang acapkali membuat aku merasa risi sendiri. Meskipun aku tahu pasti bahwa kelakuan mereka itu didasari pengakuan terhadap kenyataan yang tidak bisa dibantah. Karena selain disebabkan oleh kedudukanku, upayaku pengembanan usaha kami ke lain daerah yang berhasil, lebih-lebih sebagai perempuan aku mampu mengendalikan serta mempertahankan kesuksesan wiraswasta yang ditinggalkan ayahku. Walaupun benar itu “hanya” berupa warisan. Tapi, itu jatuh ke tanganku tidak secara otomatis, dengan cuma-cuma. Aku harus melewati tes di antara empat saudara kandungku.
Dalam sebuah dongeng diceritakan bahwa raja di suatu negeri tidak dapat memutuskan kepada siapa pun dia akan menyerahkan takhtanya. Dia mempunyai empat anak, putra dan putri. Masing-masing berpenampilan cakap, dan sepintas lalu kelihatan berperilaku baik. Namun, sang raja tidak yakin bahwa putra sulungnya yang suka berpesta akan memerintah secara adil sehingga rakyat akan bahagia. Begitu pula dengan putra keduanya. Walaupun pandai berulah senjata, namun kebiasaannya mabuk-mabukan dan berjudi merupakan ancaman besar bagi kelangsungan pemerintahan yang harus didasari kejernihan pikiran dan hati tenang. Anak yang ketiga dan keempat adalah perempuan. Paras cantik, kelakuan lembut, mumpuni dalam mengatur urusan rumah tangga ataupun penerimaan tamu. Keduanya juga sudah diajari dasar-dasar mempergunakan senjata seperlunya sehingga jika bahaya datang, mereka tahu mempertahankan diri atau keraton bahkan kerajaan.
Pendek kata, sang raja kebingungan memilih satu di antara empat anak tersebut. Maka agar tidak menimbulkan kecemburuan, ayah itu menyuruh anak-anaknya mengembara selama kurun waktu tertentu. Selain mereka harus mendapatkan pasangan masing-masing, juga harus pulang membawa tambahan pengetahuan yang bisa digunakan untuk masyarakatnya.
Ayah kami bukan seorang raja, ibuku bukan keturunan bangsawan.



 Tapi mereka telah membangun satu usaha kecil dari cucuran keringatnya. Sebagai modal, ayahku tidak berutang atau meminjam, melainkan menjual sepedanya. Dari memotong, menjahit dan menjual sendiri sandal-sandal hasil buatannya dari pintu ke pintu calon pembeli, sampai kemudian mempunyai toko. Lalu ibuku menambahkan membikin tas-tas bagor dan aneka anyaman dari bahan alami yang dikeringkan. Selang beberapa waktu, kombinasi dibuat untuk memanfaatkan limbah kulit asli atau sintetis.
Ketika akan menambah karyawan, aku baru lulus sekolah menengah atas. Kukatakan, mengapa tidak mempekerjakan orang-orang sekampung saja di rumah mereka masing-masing. Mereka diberi bahan sebagai pinjaman. Jika hasilnya bagus, kami beli. Setelah diperbaiki atau disempurnakan guna menjaga mutu dan nama baik, kami jual di toko. Itulah asal mula mengapa di kawasan tempat kami tinggal, sekarang terdapat begitu banyak pengrajin sandal, sepatu, dan tas yang terbuat dari aneka bahan. Beberapa tetangga bahkan mencoba pula mendirikan toko. Tapi hingga sekarang, hanya produk kami yang berhasil memiliki tingkat penjualan memadai, bahkan melayani pesanan dari luar negeri.
Kakakku sulung sudah berkeluarga sejak aku masih duduk di SD. Dia bekerja sebagai sopir. Kuliahnya terhenti sebelum tahun pertama selesai. Kakak kedua perempuan lebih berhasil menjadi penjual makanan matangan. Suaminya adalah tukang becak. Setelah selesai shalat asar, setiap sore dia menyorong gerobak ke pinggir jalan, ditinggal di sana. Lalu iparku balik lagi sambil mengusung dadangan bersama istrinya. Dengan cara demikian, sekarang dua anak mereka bersekolah di akademi akuntansi dan informatika, yang seorang di kelas tertinggi SMA. Saudara kandung yang tepat di atasku tidak lulus SMP, bekerja di bengkel. Bisa dikatakan hidupnya berhasil karena mampu membeli tiga kendaraan yang disewakan sebagai angkutan. Kadang terdengar berita dia ditipu sopir yang dipekerjakannya. Tapi di depan keluarga, dia tampak tenang saja, selalu mampu mengatasi semua kesulitannya.
Aku sendiri, mungkin karena aku anak perempuan bungsu, maka aku lebih senang bermain dengan limbah apa pun yang terdapat di lantai di ruangan menjahit dan menggunting aneka bahan. Ketika duduk di taman kanak-kanak, aku memberikan sebuah bantalan tempat mencocok jarum berbentuk ikan kepada ibuku. Itu adalah hadiah ulang tahunnya. Sampai sekarang, benda tersebut masih digunakan, mendapat tempat di kotak jahitan ibu kami. Untuk seterusnya, sekolahku aman-aman saja hingga aku mampu menyelesaikan kuliah dan menggondol gelar sarjana ekonomi. Aku sadar bahwa keluargaku sangat bangga dengan pencapaian gelarku tersebut. Apa lagi di masa itu belum marak didesuskan orang tentang pembelian ijazah ataupun gelar.
Setelah berunding sekeluarga, kami empat bersaudara dikirim ke seluruh penjuru Tanah Air untuk mencari kemungkinan pengembangan, baik kemitraan ataupun kerja sama di bidang niaga kerajinan. Masing-masing diberi sejumlah uang, dan kami disuruh memilih sendiri ke mana tujuan kami. Setiap hari Kamis harus mencatat semua pengeluaran secara teliti. Seorang dari kami yang dianggap paling berhasil akan menerima tanggung jawab tiga toko bersama atelir pengrajinnya sekalian.
Ternyata kakak-kakakku tidak menggerutu menerima tugas itu. Mereka mempunyai hubungan atau teman bekas sekolah yang tersebar di berbagai kota Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Bahkan kakakku perempuan, yang kelihatannya tidak keluar dari lingkungannya, langsung berkata akan ke Bandar Lampung, mencari kemungkinan kerja sama dengan sebuah toko di sana. Rupanya hanya diriku yang bingung ke mana harus pergi. Aku tidak begitu pandai bergaul. Bekas teman-teman sekolah atau kuliah tidak ada yang bisa kuandalkan. Selain yang tinggal sekota, tidak kuketahui di mana mereka lainnya menetap.
Setelah berpuasa dan berdoa menuruti ajaran orangtua, aku menetapkan tujuan: Bali. Orangtuaku hanya diam mendengar itu. Kakak-kakakku tertawa atau tersenyum tanpa kuketahui apa maknanya. Di waktu itu, pariwisata baru sayup-sayup menunjukkan pengembangannya. Walaupun di Bali dibikin aneka kerajinan sebagai benda kenang-kenangan, apa salahnya jika kami kirim pula hasil dari Bantul. Siapa tahu dengan keberuntungan dan nasib baik, aku akan menemukan mitra sejajar yang bisa diajak bekerja sama dalam hal pemasaran produk kami.
Wahyu Ilahi ternyata tidak dapat diabaikan. Aku kembali dari perjalananku dua pekan kemudian bersama seorang pemuda. Juga kemungkinan dapat mengirim ratusan mungkin ribuan benda dagangan ke berbagai kios dan toko di Pantai Kuta serta sebuah toko eksklusif di Ubud. Setelah masa tunangan beberapa bulan, aku dinikahi seorang anak pemilik sebuah restoran di Sanur. Menurut adat, lebih dulu aku diangkat menjadi anak oleh seorang pegawai rumah makan itu yang berkasta sudra supaya dapat kawin dengan upacara Hindu Bali.
Kulewati berbagai cobaan yang menggoyahkan keteguhan batinku. Terus terang, gelombang dan alun yang melanda bahtera kehidupanku nyaris meluluhlantakkan ketegaranku. Aku mensyukuri “kebebasan” ibuku sebagai perempuan Jawa dalam mengatur rutinitas keseharian, namun tidak membosankan. Yang dinamakan aturan ini-itu sehubungan dengan tradisi Jawa tidak terlalu mengekang atau menyita waktu.
Terjun bebas tanpa paksaan ke lingkungan tradisi dan rutinitas sehari-hari di Bali, aku hampir kehabisan napas karena kekurangan waktu ataupun ruang gerak. Semua serba upacara. Semua serba penyiapan sesaji. Memang benar aku belajar banyak. Aku menyukai serba-neka ajaran menganyam serta mendekor sesaji. Tapi, aku tidak kuasa hadir di dunia ini hanya untuk melakukan hal-hal tersebut. Tekanan lebih-lebih datang dari mertuaku perempuan. Dia menginginkan aku mengganti kedudukannya kelak sebagai tetua wanita dalam keluarga. Padahal ada dua menantu perempuan lain. Semua impitan keharusan untuk melaksanakan upacara itu membenihkan kerikil-kerikil di dada, hingga pada akhirnya membentuk satu bongkahan yang mengimpit pernapasanku. Untunglah aku masih sadar bahwa aku sedang melayang-layang di ambang stres. Lalu kuputuskan untuk bertindak demi kesehatan rohani dan keutuhan kepribadianku sendiri.
Aku purik 2). Satu anak perempuan yang sudah sekolah kutinggal, seorang balita dan bayi kubawa. Satu bulan penuh aku berkeras-kepala tidak pulang ke rumah tanggaku.
Akhirnya, suami menjemput dan berkata bahwa ibunya menyetujui semua keinginanku untuk kurang berperan sebagai penyelenggara aneka keperluan tradisi dan upacara. Kukatakan bahwa tidak ada gunanya sekolahku bertahun-tahun jika akhirnya harus hanya mengurusi upacara-upacara yang sebenarnya dapat diserahkan kepada orang lain. Bukannya aku merendahkan ritual tersebut! Waktuku memang untuk keluarga, namun aku juga mempunyai tanggung jawab perusahaan yang di masa itu sudah diserahkan total kepadaku oleh orangtua dan kakak-kakakku. Setiap akhir tahun, mereka tinggal menerima bagian keuntungannya saja.
Pengalaman itu bisa dikatakan ringan jika didengar. Tapi bagi yang menjalani, merupakan tahun-tahun penuh tekanan. Sebab, yang disebut upacara di Bali nyaris terjadi setiap hari setiap saat. Sedangkan perempuan adalah tiang utama bagi pelaksanaan tradisi karena merekalah yang menyiapkan serba uborampe 2)-nya.
Kini di usia yang mendekati enam puluh tahun, aku mendapat ajaran lain, yaitu bagaimana mengendalikan perasaan sebagai seorang nenek. Aku tidak dihadapkan kepada cucuku, melainkan kepada ibu si cucu itu. Anak terkejut. Mentalku tidak siap untuk itu. Di sekolah dan perguruan tinggi aku tidak pernah mendapat pelajaran bagaimana menjadi seorang nenek.
Anak sulungku yang biasanya tidak membantah atau mengguruiku di waktu-waktu sebelumnya, kini setelah tinggal di rumahnya sendiri, dapat dikatakan dia menggelincir lepas dari sela-sela jari tanganku. Sewaktu dia melahirkan, aku diminta datang untuk menemani di klinik, lalu mendampingi sebagai ibu baru di rumahnya. Karena suaminya orang Jawa, selamatan yang kujalankan adalah brokohan. Secara sederhana, kami mengirim nasi beserta sayuran bumbu urap 3) dengan kerupuk dan gereh 4) layur ke lingkungan tetangga maupun teman dekat.
Selama selapan 5) bisa dikatakan beberapa kali aku mondar-mandir memantau keadaan anakku dan bayinya. Tak tersirat gejala-gejala kepemilikannya yang ekstrem mengenai anaknya. Tiga bulan kemudian mereka berangkat ke Australia di mana si suami akan meneruskan belajar. Di waktu itu pun, belum terlihat tanda-tanda “kebengisan” anak sulungku terhadapku.
Aku percaya bahwa mempunyai cucu adalah impian semua nenek sedunia. Setelah begitu lama tidak menggendong atau menimang bahkan memandikan bayi, tentu saja aku ingin sekali melakukannya. Apalagi cucuku sendiri, manusia mungil yang keluar dari rongga perut anakku perempuan yang dulu pada waktunya juga keluar dari badanku.
Keesokan hari dari kedatanganku, setelah mendapat berbagai indoktrinasi mengenai aturan dalam rumahnya, aku mendapat teguran lagi,
“Kalau mengeringkan badan Puspa tidak begitu, Bu. Mana, biar aku saja! Ibu kan sudah memandikan! Biar sekarang kutangani….” dengan gerakan setengah merebut, anakku mendesakku ke samping.
Aku diam, mencari kesibukan dengan membenahi barang-barang, ke kamar mandi akan membuang air dari wadah.
“Sudah biarkan, Bu! Biar kukerjakan nanti! Ibu tidak tahu tempat benda-benda…!” dari jauh anakku berseru menggangguku dengan “perintah”-nya.
Sewaktu tiba saat menyuapi si bayi, aku tidak mau mengalah. Sebagaimana tadi dia merebut kain handuk dari tanganku, aku setengah memaksa mengambil mangkuk makanan cucuku. Bayi usia delapan bulan sudah diberi makanan agak ketat. Tidak seperti ibunya yang dulu kuberi makan pisang dicampur nasi lembek, cucuku diberi makanan spesial untuk bayi yang dijual di toko-toko tertentu.
“Didudukkan yang tegak lho, Bu. Jangan sembarangan menyuapinya! Nanti dia tersedak!”
Nyaris kujawab: aku suda berpengalaman menyuap bayi-bayi lain, termasuk kamu. Tapi aku berhasil mendinginkan kuping, berusaha mengabaikan si ibu sekaligus anak yang maunya sok paling tahu itu. Selesai memberi makan, ketika ibunya mandi, kumanfaatkan waktu bersama cucuku sebaik mungkin. Untuk mengeluarkan udara dari perutnya, dia kudekap ke arah bahu dalam posisi tegak. Aku berjalan ke sana kemari, singgah ke depan jendela besar yang memantulkan bayangan kami berdua di kacanya. Walaupun yang tampak hanya bayangan punggung si bayi dan wajahku, aku puas melihat diriku memeluk cucu. Kuajak dia berbicara, kuayun-ayunkan tubuhku. Dan sewaktu sendawa sudah keluar, kugendong dia dengan cara semestinya, melekat di dada menghadap ke depan sambil kami berpandangan. Aku terus mengucapkan kata-kata apa saja agar dia mendengar suaraku, agar menerka nadaku bahwa aku ingin bersahabat dengan dia.
Karena menerima sambutan anakku yang tidak menyenangkan itu, aku ingin mempersingkat kunjunganku. Di saat aku sedang menimbang-nimbang keputusanku, adikku menelepon memberi tahu bahwa ibu kami masuk rumah sakit. Ini adalah yang kedua kalinya selama sebulan ibu harus diopname. Jadi aku akan segera pulang.
Barangkali memang harus demikian. Setiap orangtua menganggap dirinya yang paling tahu, yang paling “kuasa” menentukan segalanya, padahal kenyataannya masih ada yang lebih kuasa lagi, yaitu Tuhan. Jika sekarang anakku mengira dia berhak melarangku berbuat sesuatu terhadap anaknya, cucuku, mungkin dia benar. Lingkungannya telah menempanya bersikap begitu. Aku hanya seorang nenek, sedangkan dia adalah ibu bagi anaknya.
Pengalaman ini harus kucermati sebagai satu pelajaran guna menyambut kelahiran cucu-cucuku lainnya. Untuk kesekian kalinya kunyatakan bahwa belajar tidak ada batasan waktu dan usia.

Laut Lepas Kita Pergi

Cerpen  Laut Lepas Kita Pergi



 Ketika Ayah meninggalkan tempat permukiman, hanya kulihat punggungnya yang setengah bungkuk. Kemejanya yang lusuh mengandung banyak lipatan, warnanya buram, dan aku tahu itu bukan miliknya. Ia berjalan tidak terlampau cepat, tetapi jarak antara kami semakin lebar. Semakin terasa bahwa ada bentangan yang segera akan memisahkan kami. Mungkin satu, dua, atau bahkan ratusan kilometer.Sebelum pergi, kurang lebih sepuluh menit yang lalu, Ayah mengatakan, “Aku percaya, kamu bukan pemuda cengeng. Hampir sebulan kita telah menangis bersama-sama. Itu cukup. Tidak perlu diperpanjang lagi. Kita sudah saling berusaha untuk menemukan ibumu. Juga kedua adikmu. Percayakan itu kepada Tuhan. Mungkin kini tempat mereka lebih lapang dibanding kita saat ini. Mungkin tidak ada lagi pikiran yang membebani mereka. Tinggal kita, mau hidup terus atau perlahan-lahan mati.”Mata Ayah memandangku tidak lagi senyalang elang. Tidak ada kemarahan dalam kata-katanya. Aku merasakan ucapan Ayah begitu serius, tetapi tidak mengandung tekanan. Ia bicara seperti sedang menceritakan tentang kegiatan sehari-hari. Begitu datar. Tetapi, hatiku terkesiap mendengarnya.


“Aku akan berangkat pagi ini juga, sebelum orang ramai ke jalan-jalan. Sebelum banyak ibu-ibu antri di kamar mandi umum. Sebelum tampak asap di dapur terbuka itu. Aku percaya, kamu akan sanggup menghadapi hari depanmu sendiri. Aku melihat ototmu yang kuat, badanmu yang sehat, dan terutama perasaanmu yang tabah. Ingat! Jangan pernah menangis lagi.”
Bibirku mendadak gemetar. Seperti ada ribuan kata-kata berkerumun di ujung lidah. Berdesakan ingin meletup, mendorong dinding gigi. Membuat rahangku keras seperti terbuat dari logam. Tetapi, tak ada suara yang sanggup keluar dari mulutku.
“Aku menulis surat untukmu, karena kukira kamu tak akan bangun saat subuh. Bacalah setelah matamu tak mampu memandang bayanganku. Sampai suara panggilanmu tak mungkin kudengar lagi.” Ditepuk-tepuknya bahuku, seolah-olah aku sendiri yang berduka dan dia berperan sebagai sang bijak yang berusaha menghiburku. “Maafkan aku jika selama menjadi ayahmu tak pernah membuatmu bahagia.”
Tidak ada pelukan dari Ayah. Tangannya mengusap pipiku, terasa kasar. Keriput yang terbentuk dari serangkaian kerja keras itu berusaha melekat di paras mukaku. Aku mencium bau khas yang barangkali tak terhapus dalam sewindu.
Dan kini Ayah telah melangkah memunggungiku. Ke arah selatan. Seperti memberikan isyarat bahwa di sana akan menjadi akhir dari pengembaraannya.
Begitu sadar Ayah telah semakin jauh: hanya kulihat punggungnya yang setengah bungkuk dan segerumbul pohon yang miring di ujung pandangan siap mengaburkannya, aku segera berlari ke dalam tenda. Jika benar Ayah menulis surat untukku, tentu disimpan tak jauh dari alas tidurku. Memang kutemukan selipat kertas lembap yang tampak baru saja disisipkan ke bawah timbunan sarung.
Aku berdebar membuka lipatan surat itu seakan-akan hendak membaca isi testamen. Ternyata hanya beberapa baris kalimat yang mudah dihapal setelah membaca dua kali.
“Mustafa, anakku. Aku terlampau sedih dalam peristiwa kehilangan ini, dan mungkin sebentar lagi menjadi gila. Aku akan pergi. Mudah-mudahan kamu tetap kuat untuk tinggal. Aku ternyata seorang pengecut. Selamat tinggal.”
Aku melompat bagai tersengat kalajengking. Tanpa sadar aku telah melanggar permintaannya untuk tidak memanggilnya. Aku berlari sekencang-kencangnya menuju arah Ayah berjalan. Tapi sampai aku terengah-engah, tak kutemui lagi bayangan Ayah. Mungkin tikungan, atau bekas tikungan, telah menyembunyikan arah langkahnya. Sandalku telah lepas entah ke mana. Tanah becek dan kerikil yang menghunjam telapak kakiku tak benar-benar kurasakan sakitnya. Lebih sakit perasaan dalam relung dadaku. Pisau sepi menoreh begitu dalam. Baru saja Ayah pergi, tapi kesepian begitu lekas menyergap. Aku seperti menjadi seorang diri di dunia. Dari seorang piatu menjadi sekaligus yatim dan sebatang kara. Terasa hidup sendiri di bawah langit yang selalu mendung. Jauh dari laut tapi gemuruh itu tak pernah mau hilang dari rongga telingaku.
Kini aku berjalan lunglai kembali ke permukiman sementara. Kata sementara itu mulai terasa tak terbatas. Terutama bagiku yang kini sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Satu-satunya tumpuan harapan telah meninggalkanku. Pergi begitu saja. Hanya meninggalkan kata-kata yang justru membuatku semakin terpuruk.
Memang sekarang bukan lagi saatnya untuk terus menangis. Setiap hari kuhabiskan waktuku untuk menanyakan kabar dari timur, barat, selatan, dan utara. Dari seluruh penjuru mata angin. Adakah yang menemukan Meutia? Adakah yang mendapatkan sosok Hasan? Adakah yang sempat bersimpang jalan dengan Siti Salamah?
Bahkan andai kata telah berbentuk jenazah!
Atau mungkin tinggal serangkai belulang dari tubuhnya yang terhimpit rangka bangunan. Bekas perjalanan yang tak lazim: terseret sekian kilometer bersama puing dan ombak berwarna coklat. Terhempas dan hanyut berkali-kali.
Atau sekadar sobekan pakaian terakhir yang dikenakannya menjelang gelombang tsunami datang. Mungkin aku masih sanggup mencium aroma sisa tubuhnya, di antara lumpur dan segala yang hancur. Aku akan memeluknya untuk penghabisan kali sebelum kurelakan masuk ke dalam lubang bersama mayat lain yang baru ditemukan. Tanpa nama, kecuali jika aku menandainya dengan setulus hati, lalu berusaha mengingat letaknya.
“Ayah, mungkinkah kita akan sanggup menziarahi mereka?”
Namun, aku tidak lagi bersama Ayah. Dia sudah pergi dan kini mungkin telah tiba di wilayah lain yang juga tidak dikenalnya karena suasananya sudah berubah. Sementara aku akan tetap tinggal di sini, bersama beberapa penduduk yang masih bertahan dengan keadaan seperti ini. Bersama beberapa tentara yang kulihat juga mulai bosan dan kusut mukanya.
Ketika Ayah memberiku sepucuk rencong, aku baru saja selesai menunaikan SMP. Umurku menjelang lima belas tahun.
Usai menerima pengumuman kelulusan, aku bersama teman- teman merayakan dengan cara membakar baju seragam di tengah ladang. Anak seorang juragan kambing menyumbangkan seekor domba untuk pesta syukuran. Aku pulang menjelang magrib dengan perasaan mekar sumringah. Setelah libur panjang aku akan memasuki dunia sekolah yang lain. Seolah- olah ada selembar kertas harapan untuk ditulisi segala keinginan. Dicoret-coret dengan gambar impian sekehendak hati. Aku pun berjalan sambil bersiul-siul.
Di pintu pagar rumah aku mendapatkan mata Ayah yang nyalang seperti elang. Aku serentak menduga ada hal yang sangat penting dan mungkin akan disampaikan dengan nada marah. Firasat itu begitu kuat, membuat dadaku berdegup kencang. Rasa takut menjalar. Semua ingar-bingar yang tadi mengepung api unggun perayaan pesta lulus sekolah, langsung sirna.
“Mustafa!” panggil Ayah.
“Ya, Ayah.” Aku mempercepat langkah. Dengan dada terbuka seperti ini, tentu tampak bagai menantang. Tapi, ya, bajuku sudah sempurna menjadi abu di persawahan kering dua jam yang lalu.
“Ayah mau amanatkan sesuatu kepadamu! Duduklah!”
Perasaanku mengkerut. Serambi rumah tampak sepi. Langit redup. Sebentar lagi akan terdengar suara azan dari surau di belakang rumah. Aku segera duduk di bangku kayu yang terletak setengah miring di teras.
“Ayah, hari ini aku lulus sekolah.” Aku mencoba meredakan gejolak dengan cara menyampaikan berita gembira. Siapa tahu akan menurunkan temperamen Ayah. Tapi ternyata tak mengubah apa pun.
“Aku tahu! Karena itulah aku memanggilmu. Sudah saatnya kamu menerima ini,” Ayah mengangsurkan sebuah benda yang masih tertutup oleh kain putih, “Bukalah!”
Dengan agak gentar, aku melolos kain kafan yang sudah tidak baru lagi. Serta merta terkejut, meski sudah menduga dari bentuknya, ketika mendapatkan sebuah rencong yang masih mengkilat meskipun gagangnya berupa kayu yang sudah berumur panjang.
Mendadak tanganku gemetar. Apa maksud Ayah memberiku sebuah benda tajam yang berbahaya ini? Setiap menghadapi logam tajam, apalagi dengan beberapa lengkung yang mirip ukiran, aku merasa sedang berhadapan dengan masalah besar.
“Ayah… ini sebuah rencong….”
“Syukurlah kamu tahu. Aku tak bisa menunda waktu lagi. Sudah saatnya kamu memahami arti bahaya di luar sana.”
Aku memandang sekitar. Kukira Ayah keliru dalam menilai situasi. Desa kami daerah yang paling aman. Bahkan, jarang menjadi lintasan anggota Gerakan Aceh Merdeka, secara terang-terangan maupun menyamar.
“Kamu mulai bertanggung jawab melindungi keluargamu. Bahu-membahu dengan Ayah. Jaga keselamatan Meutia dan Hasan. Sementara aku akan menjaga Salamah, ibumu.”
Tanganku semakin gemetar mendengar penjelasan Ayah. Seperti sebentar lagi akan meletus perang. Sementara angin senja kala bertiup lebih dingin dari biasa. Kemudian terdengar azan magrib berkumandang. Entah siapa yang menjadi muadzin sore ini, suaranya terdengar mendayu-dayu. Mengiris liang telinga seperti pipih sembilu.
“Ayo lekas simpan rencong itu! Kini menjadi milikmu. Jangan dibiarkan telanjang, salah-salah disambar iblis.” Ayah mengingatkan. “Sekarang kita ke surau.”
Sehabis sembahyang aku merenung di dalam bilik. Rupanya hari ini berlangsung dihiasi berbagai peristiwa yang mendebarkan. Sejak pagi aku sudah berdebar-debar menunggu pengumuman ujian akhir. Aku tidak terlampau bodoh. Tetapi, bukan berarti pasti lulus.
Ketika membuat api unggun dan membakar baju-baju, angin bertiup cukup kencang. Kemarau telah berhasil membuat setiap petak ladang menjadi kering, tumpukan jerami bertebaran di mana-mana. Tentu kami berdebar-debar dan selalu terkesiap setiap kali melihat api meliuk ke arah gubuk.
Dan, senja ini: sebuah rencong diwariskan kepadaku! Begitu mendadak, seakan-akan musuh sudah berada di balik dinding rumah. Telinga kami menduga, ada semacam keresek langkah kaki orang jahat yang mendekat. Ya. Aku telah menjadi pemuda!
Ketika Ayah memintaku untuk khitan, Hasan belum lahir. Ia masih berada dalam perut Ibu yang membuncit seperti mendekap ember di balik kain sarungnya. Sedangkan Meutia mulai sekolah seminggu tiga kali di madrasah terdekat.
“Sudah waktunya kamu memotong ujung kulupmu. Itu sumber penyakit! Mau berangkat sendiri atau kuantar?”
Aku terkesima. Mengapa Ayah tidak menunggu aku benar-benar khatam Al Quran dengan tartil dan lafal yang benar? Atau membiarkan aku mengalami mimpi basah yang pertama?
“Tidak!” Seolah Ayah mendengar keragu-raguanku. “Sunat sekarang atau tidak usah masuk ke dalam rumah.”
“Ambillah kain sarung yang baru, Mustafa.” Ucapan Ibu lebih lembut. “Sudah kusiapkan di ranjangmu.”
Aku pun mengangguk. Aku tak pernah tega menolak permintaan Ibu. Sesulit apa pun. Setakut apa pun.
Aku belum menjumpai petualangan yang seru, selain lomba berenang di arus sungai yang deras. Tapi pengalaman dipotong ujung penisku tentu merupakan salah satu keberanian seorang anak laki-laki. Jangan menangis! Ya, jangan menangis Mustafa!
“Aku percaya, kamu bukan anak cengeng, Mustafa!” ujar Ayah membekali perjalananku.
Maka, berangkatlah aku ke seorang mantri sunat. Menyerahkan kelaminku yang gemetar untuk dipotong, dijahit, dan diperban, setelah sebelumnya dibius dengan suntikan di sekitar “burung”-ku itu. Aku meringis saat perih menjalar, menembus tabir anestesi.
Akan tetapi, aku berhasil mempertahankan agar mataku tetap nyalang, tanpa setitik air menggenang di sudutnya. Aku berhasil dan begitu bangga. Aku seorang anak yang berani. Tidak cengeng! Aku hanya malu kepada Ibu yang tak pernah takut untuk melahirkan. Sebentar lagi akan ada bayi ketiga yang melewati pintu rahimnya. Pasti sakit luar biasa, karena ukuran bayi tidak sebanding dengan diameter lubang yang hendak dilaluinya. Itu menurut akalku, yang masih duduk di kelas empat sekolah dasar.
“Inilah anak Ayah yang pemberani.” Ayah menepuk bahuku, ketika sedang kunikmati seekor ayam panggang yang khusus dimasak oleh Ibu. “Aku percaya, kamu bukan anak cengeng!”
Akan tetapi, lihatlah hari ini, di ambang waktu dhuha: ternyata akhirnya aku menangis!
Dadaku seperti mau meledak oleh himpitan kesepian. Padahal, aku tahu, di sekitarku masih ada orang-orang lain yang setengah gila akibat perasaan kehilangan. Ibu-ibu yang putus asa. Anak-anak kecil yang bermain tapi tidak tahu meski mencari pelukan siapa ketika lapar datang. Dan, beberapa tentara yang rindu keluarganya. Juga para relawan yang sudah nyaris mabuk oleh aroma busuk yang melayang-layang sepanjang pekan.
Ketika Ayah meninggalkan tempat permukiman, yang terdiri dari tenda-tenda militer dan sebagian lagi berupa bangunan kayu yang berdiri tanpa fondasi, hanya kulihat punggungnya yang setengah bungkuk. Kemejanya yang lusuh mengandung banyak lipatan di sana-sini, warnanya buram, dan aku tahu itu bukan miliknya, karena diperolehnya dari kardus yang dilempar oleh sebuah helikopter yang gemuruh di suatu siang bermega pekat. Ia tadi berjalan tidak terlampau cepat, tapi jarak antara kami demikian pasti menjadi semakin jauh. Semakin terasa bahwa telah terbentang ruang yang memisahkan kami. Mungkin satu, dua, atau bahkan ratusan kilometer.
Apakah aku masih perlu mencari Meutia? Hasan? Atau ibuku? Yang entah berkubur di mana. Tsunami yang perkasa telah merebutnya dari kami tanpa memberi kesempatan untuk belajar cemburu lebih dulu. Maafkan aku. *

Bunga Jepun

Cerpen : Bunga Jepun



Sebulan sesudah bom meledak di Legian, Luh Manik belum memutuskan apa-apa. Saban petang ia masih suka menyusuri jalan setapak, melintasi beberapa petak sawah dan kebun pisang, untuk kemudian tiba di bangunan berbentuk los, di mana dulu ia biasa berlatih menari. Dulu, di sekitar petak sawah terakhir, di dekat sebuah pura kecil, Luh Manik senantiasa memetik bunga jepun. Ia tak perlu naik karena di batang pohon jepun entah oleh siapa, telah tersedia sebatang bambu lengkap dengan kait untuk menggaet bunga. Lalu, bunga-bunga jepun berwarna putih itu, setelah digaet memutar seperti baling-baling helikopter sebelum menyentuh tanah.
Luh Manik membayangkan dirinya tengah berada di dalam sebuah pesawat yang melaju ke luar negeri. “Aku mestinya sudah menari di luar negeri,” selalu ia mengakhiri khayalannya dengan kata-kata itu. Bergegas kemudian dipungutnya bunga-bunga yang berjatuhan menerpa belukar liar.
Waktu itu, Luh Manik sungguh menikmati hari-hari yang riang. Petang hari, setelah memetik bunga-bunga, biasanya bersama rombongan yang telah menunggunya di los dari bambu, ia berangkat menuju Nusa Dua. Ia selalu diberikan tempat di samping sopir dengan seorang penari lainnya. Sementara para penabuh berjejalan di bak truk bercampur dengan perangkat gamelan. Dalam cuaca hujan, mereka tak pernah takut. Cukup dengan menarik terpal untuk kemudian memfungsikannya seperti atap rumah, dan mereka akan terlindung dari guyuran air hujan sederas apa pun. Perjalanan dari Desa Poh menuju Nusa Dua biasa ditempuh dalam dua setengah jam. Sepanjang jalan, tak henti para penabuh menembangkan lagu-lagu pop Bali yang sedang digemari. Sembari memukul kendang, mereka menyanyikan lagu-lagu karangan Widi Widiana, penyanyi pop Bali yang lagi populer itu.


Meski hanya diberi honor antara Rp 7.000 sampai Rp 10.000, Luh Manik bersama kelompok joged bungbung Teruna Mekar menjalani petang dengan riang selama hampir tiga tahun terakhir. Setidaknya kehidupan rata-rata warga Desa Poh yang hanya menggantungkan harapan pada kebun pisang dan sawah tadah hujan, agak tertolong dengan kontrak menari di beberapa hotel di kawasan wisata Nusa Dua. Selalu sebagian warga mendahului duduk-duduk di los sembari menunggu jemputan. Duduk-duduk di los seperti menunggu rezeki mengalir ke Desa Poh. Kedatangan truk pun lama kelamaan seperti kedatangan dewa penyelamat yang mengangkat mereka dari keterpurukan ekonomi.
Petang ini jalanan licin. Di bulan November, desa-desa di Bali sedang memasuki musim gerimis. Ini pertanda tak lama lagi musim hujan akan tiba. Semak belukar yang meranggas selama kemarau belum tumbuh sepenuhnya. Tanah yang kehitaman berkilau-kilau diterangi kilat dari langit di barat desa. Di dekat pohon jepun, Luh Manik berhenti sejenak, menelusuri batang, dahan, serta ranting yang bulat bergerigi sampai ke pucuk. Bunga jepun yang putih seperti malas mekar. Batang bambu yang dulu selalu digunakan untuk mengait kuntum-kuntum bunga sudah tidak ada lagi.
“Ah…,” gadis belasan tahun ini melenguh. Ia tak dapat menyembunyikan kegelisahannya. Saban petang, setelah bom meledak di Legian, Luh Manik nekad memanjat batang pohon jepun untuk menemukan kuntum bunga. Batang pohon yang lembut itu seperti merasakan gesekan kulit Luh Manik yang halus. Mereka seperti dua kekasih yang lama terpisah. Dan hari ini, di petang yang dingin keduanya saling memeluk untuk melepas rindu. Daun-daun jepun yang bergoyang karena terpaan angin mengusap-usap rambut Luh Manik. Keduanya saling berbisik mengenangkan hari-hari menyenangkan.
“Aku masih ingat waktu kau petik berpuluh-puluh bungaku,” ujar pohon.
“Aku juga masih ingat saat kau menjatuhkan bunga, melayang seperti baling-baling pesawat…” jawab Luh Manik.
“Lalu…. lalu kau selalu merasa sedang menari di sebuah negeri yang jauh dari desa ini dengan merangkai bungaku di rambutmu.”
“Aku selalu mengidamkan menari di luar negeri, seperti para penari dari kota.”
“Bukankah menari di hotel juga untuk para bule itu?”
“Tetapi… aku ingin menikmati kepakkan baling-baling yang menebarkan wangi, hingga mengantarkan aku ke negeri bersalju.”
“Bukankah dari mulut para bule yang menciummu seusai menari senantiasa meluncurkan aroma harum anggur? Lalu, kau suntingkan bungaku di telinga mereka?”
“Sekarang tidak lagi. Kita hanya bunga belukar yang selalu mengidam-idamkan pergi ke luar negeri bersama-sama.”
Luh Manik memetik sekuntum bunga untuk kemudian diikatkan pada rambutnya yang panjang. Sambil berlari-lari kecil di atas pematang, ia memasuki setapak di bawah rimbunan kebun pisang.
Di dalam los selalu sudah ada beberapa lelaki yang dengan lesu memukul bilah-bilah bambu gamelan. Suaranya terdengar terseok-seok dari celah-celah batang pisang, di mana Luh Manik sedang berjalan. Dari jarak dua puluh lima meter, lapangan di depan los yang biasa digunakan Luh Manik berlatih menari, sudah ditumbuhi rerumputan. Batang bambu yang digunakan menggantung petromak di tengah-tengah lapangan, juga sudah tampak miring. Bahkan, kalau saja tidak ada batu yang mengganjalnya, mungkin batang bambu itu sudah lama roboh.
Luh Manik menerawang ke ambang petang. Langit di barat masih berkabut. Gerimis baru saja berhenti. Asap bergulung-gulung meluncur dari atap daun kelapa rumah beberapa warga. Petang begini mereka baru memutuskan untuk merebus pisang muda. Sejak kontrak menari di hotel-hotel diputus, sebagian besar warga seperti kehilangan pegangan. Mereka terlanjur menggantungkan diri pada kegiatan Teruna Mekar.
“Kudengar kamu akan kerja di Jakarta, Luh?” tanya lelaki setengah baya yang biasa menjadi pemukul kendang di Teruna Mekar. Luh Manik yang disambut dengan pertanyaan sewaktu memasuki los tercekat. Ia berpikir, begitu cepatnya kabar menyebar. Padahal, rencana itu baru ia kemukakan kepada Kadek Sukasti, temannya sesama penari.
“Kami sangat mengerti kemauanmu itu,” kata lelaki yang lain lagi.
“Hidup di sini sudah hampir tak ada harapan. Kami juga sedang memikirkan untuk menjual saja gamelan ini,” ujar lelaki pemukul bilah-bilah bambu dengan nada putus asa.
“Tetapi keputusanmu itu, menurutku sangat egois. Kemarin, baru kudengar kamu ingin terus tinggal di desa apa pun yang terjadi. Kedua orang tuamu sudah tidak ada, Luh. Mengapa mesti nekat hidup di kota keras seperti Jakarta?” berkata lelaki muda dengan sangat emosional.
“Kemarin, sewaktu aku melewati pohon jepun di pinggiran sawah, aku memutuskan untuk pergi saja,” jawab Luh Manik tegas. Meski baru berumur belasan tahun, tetapi Luh Manik jauh tampak lebih dewasa dalam berbicara. Mungkin karena ia terbiasa hidup mandiri. Ia tak pernah merasa rikuh ngomong bersama sekumpulan lelaki yang jauh lebih tua dari dirinya.
“Aku dengar pula kamu mulai bicara-bicara sambil memeluk pohon jepun di pinggiran sawah itu. Sebaiknya, Luh, kamu di sini saja tenangkan diri dahulu, sembari memikirkan langkah nanti…” kali ini berkata seorang kakek yang dianggap sebagai tetua kelompok Teruna Mekar.
Luh Manik terdiam. Ia merasa sedang diadili. Lelaki, pikirnya, seringkali terlalu egois dengan mengatasnamakan kelompok. Padahal, sesungguhnya mereka sendiri takut kehilangan pegangan, takut kehilangan perempuan seperti dirinya yang selama ini menjadi primadona Teruna Mekar. Mereka juga takut kehilangan sandaran hidup, hingga semuanya mesti dihadapi bersama-sama.
Baginya pohon jepun itulah sampai kini yang paling mengerti akan kesusahan warga Desa Poh. Selama bertahun-tahun, pohon jepun telah merelakan bunganya untuk dipetik, dirangkai, dan menjadi penarik para wisatawan. Bentuknya yang berbilah-bilah bisa menjadi aksen yang menarik jika disematkan pada rambut atau disuntingkan di telinga. Sebagai penari joged bungbung Luh Manik sadar benar, ia tidak akan bisa menari dengan baik tanpa bunga jepun.
“Luh, semua kita sekarang sedang stress. Tapi, kami minta tenang dulu, jangan pergi dalam keadaan pikiran masih kacau ya…” tambah lelaki tua tadi.
“Terima kasih, Kek,” Luh Manik selalu memanggil lelaki tua itu dengan sebutan “kakek”. “Aku hanya sedang mencoba mencari kemungkinan baru dari hidup ini. Hidup mesti terus berjalan, kendati kita hampir-hampir kehilangan sandaran untuk berdiri.”
“Jadi, kamu tetap ingin pergi ke Jakarta, tanpa memikirkan nasib kami?” kata lelaki emosional lagi.
“Nasib kita tergantung di tangan masing-masing, dan bukan pada bilah-bilah bambu gamelan itu. Ia hanya benda dan alat untuk memperbaiki nasib…” kata Luh Manik. Kata-kata ini meluncur begitu saja dari bibir perempuan berambut sepinggang ini tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Bahkan, di ujung perkataannya, Luh Manik seringkali kaget, mengapa ia berkata-kata sebegitu lancar dan bijak, bahkan jauh melebihi lelaki tua itu.
Percakapan itu akhirnya berakhir karena gerimis telah mengalirkan gelap sampai ke dalam los. Luh Manik bergegas kembali ke rumahnya. Malam terlelap dalam gemerisik suara jangkrik yang sesekali ditingkahi lolong anjing di kejauhan. Suaranya sayup-sayup menyusup di sela pepohonan. Desa Poh yang ringkih seperti lelaki tua yang terseok berjalan dalam hitam malam.
Pagi-pagi sekali Kakek mendatangi rumah Luh Manik. Dari celah pohon jambu tampak pula Kadek Sukasti bersungut-sungut di belakangnya. Sekelompok ayam yang sedang mengais makanan di halaman meloncat berhamburan. Tetapi, setelah Kakek dan Kadek Sukasti lewat, ayam-ayam itu kembali berkumpul saling berebut makanan dari singkong kering yang ditaburkan Luh Manik.
Setelah melewati deretan semak di jalan setapak sebelah barat rumah Luh Manik, makin jelas terlihat wajah keduanya sangat tegang. Bahkan, kepala Kakek tampak terguncangguncang karena ia memaksakan diri untuk berlari-lari kecil. Buntalan kainnya tak keruan, hampir-hampir saja melorot dari pinggangnya yang ceking.
Dengan bibir bergetar, Kakek berkata, “Luh… kali ini harapan kita satu-satunya habis sudah. Mereka sudah memutuskan untuk menjual gamelan. Warga menolak untuk memberitahu kamu. Dan tadi malam, seorang lelaki dari kota telah mengangkutnya. Semua, sampai alat pemukulnya. Katanya untuk koleksi….begitu.”
“….Kalau memang itu satu-satunya jalan meneruskan hidup, mengapa tidak?” jawab Luh Manik enteng. Pembicaraan mereka berlangsung di halaman, tepat ketika matahari berkilauan menembusi pucuk pohon kelapa tua di timur rumah.
“Luh…!” Kakek mengucapkan nama Luh Manik dengan mata membelalak penuh ketidakpercayaan. “Bukankah dulu kamu dan ayahmu yang bersikeras membangun kembali kelompok joged ini? Dan, kamu bersedia menjadi joged pada saat kita sulit menemukan penari. Bahkan, kamu rela berhenti dari sekolah untuk serius menekuni tari. Mengapa sekarang kamu seperti menyerah saja ketika kita menghadapi kesulitan…”
“Kek, apalah yang bisa saya perbuat lagi, kalau itu sudah menjadi keputusan mereka. Dan menurutku, desa ini tak memberi pilihan lain agar kita tetap hidup.”
“Bukan itu persoalannya. Kakek sendiri tidak tahu pasti entah siapa dulu yang menciptakan perangkat gamelan joged itu. Kakek pun hanya tahu bahwa gamelan itu sudah tersimpan di los, hingga kita tak berhak menjualnya, Luh…”
Meski kaget, Luh Manik berusaha bersikap wajar. Ia ingin berpikir realistis… “Mungkin maksud Kakek gamelan ini warisan dari leluhur?”
“Mungkin begitu.”
“Kek, cobalah beri mereka pilihan untuk melanjutkan hidup. Bukan warisan itu yang penting benar sekarang, kan? Kita semua terlanjur tergantung pada kontrak itu, hingga lupa mengurus ladang.”
“Berarti, kamu telah memangkas pohon kehidupan di desa ini sampai ke akarnya. Justru gamelan itulah gantungan hidup kita, siapa tahu situasi di Nusa Dua cepat pulih…. dan kontrak-kontrak dilanjutkan lagi.”
“Itu perkara nanti, Kek. Keadaan sekarang terus mendesak. Mereka perlu makan hari ini!”
Dengan wajah kesal, kecewa, dan marah, tanpa mengucap kata sepatah pun Kakek menggamit ujung kainnya dan berlalu dari hadapan Luh Manik. Sebelum lenyap di balik rerimbunan pohon, masih terdengar ia menggerutu. “Dasar anak kecil…! Entengkan soal berat.”
Sementara Kadek Sukasti, memilih tetap tinggal dan duduk di beranda menemani Luh Manik. Ia juga sedang berpikir turut serta mencari kerja ke Jakarta. Kebetulan, menurut ayahnya, seorang saudara jauh yang dulu tinggal di Denpasar, sudah dua tahun ini pindah tugas di Jakarta. Bisa saja ia tinggal di sana, sementara menunggu pekerjaan.
Luh Manik menerawang seakan tak percaya pada apa yang barusan ia ungkapkan. Ketika Kadek Sukasti menyentuh tangannya, mata Luh Manik berkaca-kaca. Sekarang, ia malah berbalik tak yakin kalau menjual gamelan menjadi satu-satunya jalan keluar dari kesulitan hidup di sini. Benar kata Kakek, bahwa ia telah memotong pohon sampai ke akarnya, hingga tak ada lagi yang bisa dijadikan sandaran warga desa.
Selama bertahun-tahun, warga telah meninggalkan kebiasaan mengolah tanah. Mereka percaya benar joged lebih banyak mendatangkan hasil. Selain uangnya bisa dinikmati langsung, setidaknya suara gamelan dan lenggak-lenggok Luh Manik dan Kadek Sukasti di saat menari, menjadi pelipur kemelaratan. Tingkah polah para bule yang turut menari bersama Luh Manik selalu membuat mereka terbahak. Bahkan, seringkali perawakan rata-rata lelaki bule yang tinggi besar diolok-olok sebagai Rahwana yang sedang mengintai Dewi Sinta. Tertawa berderai kemudian terdengar dari bak truk ketika mereka kembali ke desa.
Setelah sebentar masuk ke kamarnya, Luh Manik menggamit tangan Kadek Sukasti, “Ayo kita jalan-jalan…” ajaknya. Kadek Sukasti tak menolak. Ia mengikuti langkah Luh Manik menyusuri setapak sebelum akhirnya lenyap di balik rimbun bambu.
Tubuh dua perempuan muda itu tampak kecil dan ringkih dipandang dari perbukitan di selatan persawahan. Mereka sesekali saling pegang untuk menghindari jalan menurun yang licin. Rambut Luh Manik yang panjang, ia lilitkan begitu saja di lehernya.
Di petak sawah terakhir, keduanya duduk sembari menyandarkan tubuhnya pada batang pohon jepun. Sekuntum bunga jepun yang lepas dari ranting berputar-putar seperti baling-baling helikopter sebelum akhirnya menyentuh pangkuan Luh Manik.
“Apa rencanamu Luh?” tanya Kadek Sukasti memecah kebisuan. Luh Manik tak segera menyahut. Ia masih memperhatikan bilah-bilah bunga jepun yang layu di pangkuannya.
“Kamu jadi ke Jakarta, Luh?”
“Seperti yang sudah aku katakan, aku akan ikut saudaranya Nyonya Lin yang punya toko di Negara. Saudaranya itu juga punya toko onderdil sepeda motor di Jakarta. Mungkin aku akan kerja di sana…”
“Jadi pembantu?”
“Jadi pelayan toko.”
Tangan Luh Manik meremas bunga jepun, yang tadi melayang, berputar-putar, bagai pesawat yang dulu sering membawa ia bermimpi tentang negeri-negeri bersalju. Ia bermimpi menari di depan ratusan orang asing dengan pakaian gemerlap, lalu mendapatkan tepuk tangan dan ciuman beraroma harum anggur…