Kumpulan Cerpen Menarik ( cerita pendek )

Roti Tawar

Cerpen Roti Tawar

    


       Setangkup roti tawar yang tersaji di meja makan menampakkan lelehan pasta selai kacang. Itu kombinasi yang paling kugemari. Meskipun ada pilihan lain, seperti selai nenas, stroberi, atau keju lembut.
Dalam seminggu aku sarapan roti tawar sedikitnya empat hari. Bahkan sesekali aku membawanya ke kantor dalam kotak makanan yang terbuat dari plastik. Pada pukul sepuluh, saat perut belum sepenuhnya lapar, biasanya aku tergoda untuk membuka bekal dan menggigit roti tawar itu dengan perasaan iseng.
“Boleh minta separuh?” suatu saat Nila memergoki.
Aku memotong bagian yang tak tersentuh gigiku. “Suka selai kacang?”
“Apa saja.” Ia tersenyum. Matanya tampak lebih lapar. “Terima kasih.”

 Cerpen Menarik

Akhirnya aku menghentikan pekerjaan dan memandang cara Nila makan. Sungguh tak tebersit sikap curiga seandainya aku sengaja memancingnya agar ia mengunyah lebih cepat dan menelan lebih segera. Alangkah mudah jika aku bermaksud meracuninya. Tentu dia tak akan bertahan lebih dari lima menit. Selanjutnya terjungkal dari kusi dengan – atau tanpa- mulut berbusa.
Aku tersenyum, karena memang tidak bermaksud membuatnya celaka. Aku menyelesaikan separuh roti tawar dengan selai kacang itu lebih perlahan. Perutku memang belum sepenuhnya lapar.
“Kamu mau kopi? Aku baru saja membuatnya.” Nila berjalan menuju meja kerjanya di ujung ruang. Lalu kembali dengan cangkir yang tampak mengepulkan asap.
Aroma kopi menyergap, merangsang hidungku. Segera kuberikan gelasku untuk membagi kopi itu. Dengan cara yang sungguh mumpuni, Nila menuang kopi dari cangkirnya tanpa tumpah setetes pun. Hebat! Mungkin di rumah, dia sudah biasa melakukannya. Terhadap suami atau anak-anaknya. Eh, apakah dia sudah tak lajang lagi? sependengaranku, Nila tak pernah menceritakan perihal anak atau suami.
Kini aku mengamati caranya menyeruput kopi. Begitu khidmat. Tidak dengan sambil-lalu. Barangkali kopi adalah bagian dari ritualnya sehari-hari. Seperti roti tawar bagiku.
“Terima kasih roti tawarnya,” ujarnya begitu meletakkan cangkir. Menghindari salah tingkah lantaran kuperhatikan.
“Terimakasih juga kopinya…”
“Tapi kamu belum mencobanya,” Nila memotong.
“Oh ya, sebentar lagi. Masih panas.” Aku sengaja menyentuh gelas dengan telapak tangan.
“Percayalah, justru kalau sudah dingin akan kehilangan rasa sedapnya. Itu yang penting.”
Nila menyebut ’yang penting’ dengan cara seolah benar-benar penting. Maka aku pun mengangkat gelas dengan sergapan wangi kopi ke dalam lorong hidung. Kuhirup dan kucecap dengan lidah. Astaga… pahit! Tapi, tentu saja tidak kutunjukkan keterkejutan dengan ekspresi bibir dan lidah yang terjulur tanda menolak.
“Enak, bukan?” Nila tersenyum memandangku lurus.
“Hm, ya. Tapi…”
“Pahitkah?” pertanyaan yang tak perlu kujawab. Atau justru harus kubenarkan? “Aku tidak suka kopi manis,” katanya kemudian.
Dengan demikian, pikirku, besok pagi jika memang ditawari lagi, sebaiknya kutolak. Sepanjang dia tak tersinggung, tentu.
Nila bangkit dari duduk. “Kuambilkan gula di pantry Mbak Mimi?”
“Oh, tidak usah.”
“Ayolah, Seto! Daripada kopiku nanti kamu buang.”
“Pasti kuminum.” Heran. Aku berjanji, mengatakan pasti, tapi setengah hati.
“Terima kasih. Roti tawarmu enak. Lembut sekali. Boleh tahu mereknya?”
Aku menyebutkan sebuah nama. Nila pasti sudah sering mendengar nama itu. Tidak terlalu populer, tapi mudah dicari di supermarket, bahkan di circle-K.
“Eh, jam berapa ini? Sudah waktunya kerja lagi.” Nila tertawa dan berdiri. “Apakah kamu selalu meluangkan waktu untuk coffee break?”
“Kadang-kadang.” Aku tersenyum. Dari seberang sana, Nila akan sulit melihat kebiasaanku. Ada berderet meja karyawan lain. Hanya saat mengambil air dari dispenser, sesekali dia bisa menoleh kepadaku.
“Ok, selamat bekerja kembali.”
Nila melenggang. Justru setelah dia pergi, wangi parfumnya tertinggal. Light Blue. Dolce & Gabbana! Harum jasmin yang meruap. Ah, aku teringat sesuatu! Tapi segera kutepis, karena orang-orang secara bersamaan keluar dari ruang rapat menuju ke meja masing-masing. Kini ruangan dengan gaya open space itu kembali ramai.
Saat perjalanan pulang ke rumah, aku teringat kembali percakapan singkat dengan Nila. Kukira itu terjadi tiga tahun sekali. Maksudku, setelah aku bekerja di kantor ini selama tiga tahun, peristiwa itu terjadi. Padahal aku kerap membawa bekal roti tawar ke kantor dan pada pukul sepuluh sering tergoda untuk menggigitnya.
Entah kenapa, sebelum tiba di rumah aku sengaja mampir ke sebuah toko bakery langganan. Entah kenapa aku sengaja membeli roti tawar dua kali lebih banyak daripada biasanya. Diam-diam aku merencanakan sesuatu untuk esok pagi. Aku akan membawa bekal dan menunggu hingga jam sepuluh. Menunggu mataku (bukan perutku) tergoda untuk menggigit roti tawarku. Menunggu Nila melangkah mendekat dan menawariku kopi. Tapi … apakah sebaiknya kopi itu kutolak?
Kasir menyebut harga yang harus kubayar untuk dua pak roti tawar tanpa kulit. Aku teringat pujian Nila: Roti tawarmu enak. Lembut sekali. Boleh tahu mereknya?
Kubaca nama toko bakery itu seperti berusaha menghafal dari awal. Lalu kuingat-ingat, sejak kapan aku mulai menetapkan pilihan padanya? Banyak sekali roti tawar yang pernah kucoba, tapi yang ini memang berbeda. Begitu lembut. Ada semacam rasa ketagihan saat mengunyahnya.
Perjalananku berakhir di depan pagar rumah. Cahaya kuning temaram menyambutku. Seseorang telah menyalakan menjelang petang tadi. Mungkin Isah, atau ibuku. Hanya dengan mereka berdua aku tinggal di rumah tipe 45 berhalaman sempit ini. Karena itulah kupilih mobil Karimun yang tak begitu panjang.
Sebelum kuletakkan segala bawaan dari kantor, yang terdiri dari lap-top dan majalah, aku mencari Isah hanya untuk mengatakan: “Besok pagi, siapkan roti tawar lebih banyak.”
“Semua dengan selai kacang?”
Aku tertegun. Apakah sungguh-sungguh Nila menyukai roti tawar dengan selai kacang? Kebetulan tadi pagi aku membawa selai kacang, tidak ada pilihan lain. Dan Nila mengatakan: Apa saja. Dengan mata yang tampak lapar.
“Kalau begitu, buatkan juga dengan stroberi dan nenas.”
Setelah itu aku menjenguk Ibu di kamar tidurnya. Tampaknya sedang sibuk membereskan lemari bajunya. Padahal aku tak sabar ingin menyampaikan berita agak penting: “Tadi pagi ada seorang perempuan, namanya Nila, minta roti tawarku.”
Lalu pertanyaan dalam hati itu mengusik kembali: apakah Nila sudah tak lajang? Kegemarannya akan kopi pahit terasa agak unik. Karena seingatku dia salah seorang sekretaris, bukan desainer atau arsitek yang umumnya bekerja begadang.
ENTAH kenapa, kemudian, aku bangun di pagi berikutnya lebih lekas daripada biasa dan penuh semangat. Entah kenapa, sebelum ke kamar mandi aku menengok persiapan di meja makan. Tentu saja belum ada apa-apa. Mungkin Isah baru saja terjaga.
Ini hari Rabu, membayangkan Nila tidak mengenakan seragam seperti hari Senin dan Selasa. Mungkin hari ini dia akan mengenakan setelan baju ketat dengan celana panjang atau justru rok mini. Ah, mengapa serentak hatiku berdebar? Aku mandi melupakan air dingin, sambil menggosok tubuhku lebih teliti ketimbang kemarin.
Ketika aku memasukkan empat tangkup roti tawar dengan aneka rasa itu (satu di antaranya diisi taburan cokelat) ke dalam tempat yang terbuat dari plastik dengan ukuran lebih besar, tebersit keraguan. Bagaimana aku membawa turun dari mobil dan masuk ke dalam lift bersama karyawan lain di gedung 12 lantai itu? Bisa jadi menimbulkan pertanyaan yang agak menggoda: “Mau piknik ke mana, Seto?”
Aku harus tiba lebih awal, saat lift masih kosong. Tapi keraguan kedua muncul. Jangan-jangan, pada pukul sepuluh nanti, tidak ada rapat seperti kemarin, sehingga tentu banyak kawan-kawan lain di sekitar kami. Aku duduk berderet dengan karyawan lain. Bagaimana mungkin ’mengundang’ Nila ke mejaku? Atau aku yang mendatanginya? Itu justru semakin tidak mungkin, menenteng tempat roti ke wilayah sekretaris, yang berdekatan dengan tempat duduk direktur, bukan pada jam istirahat pula.
Tentu nanti ada akal! Aku pun pamit kepada Ibu dan mengurungkan niatku untuk menyampaikan peristiwa kemarin karena sedang mengejar waktu. Pandangan Ibu agak heran dengan bekal yang kubawa.
“Seto, kamu tidak akan ke luar kota, kan?”
“Oh, tidak. Kebetulan aku belum sarapan, sekalian untuk makan siang.”
“Apakah tidak ada kantin di kantormu? Kamu pernah cerita ada tempat makan yang selalu ramai.”
Aku mulai gelisah. “Kadang-kadang pekerjaan sangat padat, membuat aku harus tetap berada di tempat.”
Ibu tersenyum. Mungkin karena bangga terhadap cara kerjaku. Atau karena memergoki alasan yang kurang masuk akal? Atau hanya ingin terpingkal lantaran sejak kecil aku begitu menyukai roti tawar?
“Hati-hati di jalan.” Pesannya sewaktu kucium tangannya. “Apakah di kantormu tidak ada gadis cantik yang menjadi teman kerjamu?”
Aku nyaris tersengal. Apakah sebaiknya kuceritakan sekarang? Mungkin tak cukup seperempat jam. “Ada. Tapi tidak kenal dekat. Nanti malam kuceritakan pada Ibu.”
Aku segera berlalu sebelum bertambah banyak pertanyaan. Percayalah, nanti malam kuceritakan. Aku sedang mencoba mempertaruhkan hari ini. Sebagai tanda dibukanya kembali pintu hatiku.
Sepanjang perjalanan, banyak hal melintas di kepala. Ingatan yang berlompatan, mendesak untuk tampil di ruang benakku. Beberapa nama yang sempat tertanam lama meskipun telah jauh berlalu. Saling tumpang-tindih awalnya, kemudian mulai tersusun seperti sebuah peristiwa yang diputar ulang.
Kekasihku yang pertama, Putri, melompat dari balkon hotel lantai 23. Dia patah hati dengan Rangga dan aku mencoba menyembuhkan lukanya. Namun undangan bertemu bekas kekasihnya itu, di hotel berbintang lima, membuatnya pergi secara misterius tanpa sepengetahuanku. Beberapa lama sesudah peristiwa menyedihkan itu, aku mencoba menghibur ibunya yang tak pernah menghapus tulisan terakhir anaknya di cermin riasnya.
Untuk melupakan kenangan itu aku pindah bekerja, dari sebuah rumah produksi beralih menjadi pembuat program acara radio. Aku menjadi jarang jalan-jalan karena lebih banyak bekerja di studio. Temanku seorang dara yang gagal menjadi penyanyi dan kemudian menjadi penyiar. Ia menyukai segala sesuatu yang bergambar babi: mulai dari tas, dompet, gelas minum, t-shirt, saputangan, bahkan sprei dan boneka babi. Yang tak pernah kusangka, ia ternyata memelihara babi mungil yang boleh berkeliaran di dalam rumahnya. Itu kuketahui saat aku mengantarnya pulang sesudah acara siaran langsung pertunjukan festival band kampus.
“Meristin, apakah itu bukan robot babi?” kataku kaget ketika kulihat babi merah jambu menyerbu di depan pintu yang dibuka oleh ibunya, suatu tengah malam.
“Sembarangan ngomong!” tegurnya sambil tertawa. “Dia tak akan pergi tidur sebelum aku pulang.”
Aku lebih terkesima saat Meristin memeluk dan mencium moncong babi yang basah itu. Astaga! Seandainya aku menjadi kekasihnya, apakah aku harus berbagi bibir Meristin dengan babi itu? Aku mencoba menahan muntah. Padahal, aku mulai jatuh cinta dengan penyanyi gagal itu.
Selanjutnya aku mulai menjaga jarak agar tidak terlampau jatuh hati dan mungkin lambatlaun menjadi teman sejawat saja. Bahkan untuk sekadar berjabat tangan saja aku mulai berpikir, jangan-jangan sebelumnya Meristin mengelus-elus hidung babi kesayangannya. Dan ketika untuk kedua kalinya aku terpaksa mengantar Meristin pulang menjelang pagi, babi itu juga belum tidur. Sesungguhnya aku tak percaya pada pernyataan Meristin. Babi sialan itu pasti sudah tidur mendengkur sejak sore dan terbangun menyambut majikannya ketika mendengar suara gaduh di pagar halaman.
“Hei, Baby! Kasihan kamu belum tidur…” sambut Meristin.
Saat itu aku pun ingin muntah. Lekas-lekas aku pamit. Namun rupanya Meristin gadis yang sopan, sehingga ia mengantarku sampai ke pintu pagar. Aku tak melihat babi kesayangannya meluncur dari gendongannya persis ketika aku menjalankan mobil dengan gas penuh. Bunyi ’nguik!’ dan mobil yang berguncang oleh tubuh babi yang mungkin terlindas ban membuatku menginjak rem mendadak. Maka gemparlah pagi buta itu dengan tangis Meristin dan orangtuanya yang marah-marah. Ketika dua orang satpam melangkah dari gardu di ujung jalan, aku punya pikiran kerdil untuk segera melarikan diri. Itulah yang kulakukan. Aku akan bertanggung jawab, misalnya dengan membeli babi sebagai penggantinya, tetapi tak ingin babakbelur seandainya dua orang satpam yang kurang tidur itu lepas kendali.
Selamat tinggal Meristin! Aku pun pindah kerja lagi dan kini diterima pada bagian distribusi unit di perusahaan otomotif. Tahun-tahun berjalan dengan berusaha melupakan Putri dan Meristin. Pada suatu acara pertemuan dealer mobil seluruh Indonesia, aku bertemu dengan seorang gadis wiraniaga yang selalu meninggalkan wangi jasmin setiap kali melintas di depanku. Tiga hari tiga malam di Lido Resort membuat kami dekat satu sama lain. Namun pada malam terakhir aku kecewa karena kupergoki dia menghuni kamar yang salah bersama seorang laki-laki. Aku lebih mudah melupakannya karena ia segera kembali ke kotanya di luar Jawa, namun tak mudah melupakan aroma parfumnya. Aku mencoba mengenali jenis dan mereknya.
Kemarin Nila memiliki aroma yang sama! Light Blue!
Kini aku melambatkan mobil, memasuki halaman parkir gedung kantor. Hatiku mulai berdebar. Aku merencanakan sesuatu pada jam sepuluh nanti. Akankah Nila kali ini curiga dengan bekalku yang bertambah banyak? Aku gembira mendapatkan kantor masih lengang. Dan segera meletakkan bekalku di bawah meja kerja. Tentu belum ada yang datang kecuali office boy yang sedang merapikan ruangan.
Ketika jam kerja dimulai, perhatianku mulai terpecah pada hal-hal yang kurencanakan. Aku tidak jadi sarapan, agar jam sepuluh nanti perutku cukup lapar. Dari jauh aku melihat Nila mengenakan blouse warna ungu muda ditutup blazer dan pada lehernya tersimpul scarf. Warna yang mengganggu perasaan. Warna yang dikenakan gadis wiraniaga dari luar Jawa itu pada hari penghabisan rapat nasional. Ternyata aku masih kecewa. Tapi, pasti tak ada hubungan antara Nila dengan peristiwa itu.
Mengapa jam terasa begitu lambat? Dan rupanya aku menjadi tidak produktif. Entah kenapa, saat Nila berjalan dari ujung ruang menuju dispenser, aku seperti telah mengenal ketukan langkahnya. Seperti sebuah gerakan perlambatan, sengaja kuambil bekal dan kuletakkan di atas meja. Pagi ini tidak ada rapat, semua karyawan sedang sibuk di meja masing-masing. Sementara yang kutunggu dengan perasaan berdebar tak kunjung tiba. Nila tidak menoleh sama sekali ke arahku. Saat itu teman sebelah-menyebelahku memergoki sejumlah roti tawar dari tempat transparan dengan mata bersinar.
“Seto, bagi rotinya ya!” Entah siapa yang memiliki gagasan itu, sekitar empat orang mendekat. Adi, Yong, Yudi, dan Ibnu berkerumun. Mau tak mau aku membuka kotak bekalku. Mataku mencoba mencari Nila, tapi perempuan itu sudah kembali ke mejanya. Bahkan agaknya tak mendengar kata ’roti’ yang diucapkan teman sebelahku. Sayup aroma kopi yang diseduhnya terbang ke hidungku…
Rencana pukul sepuluhku berlalu menyedihkan. Di kotak bekal tinggal setangkup roti berisi selai nenas yang tidak kusukai. Tapi tak mungkin juga kutawarkan kepada Nila, seolah menyodorkan penganan sisa. Aku tak perlu mendengar ucapan terima kasih kawan-kawan yang juga memuji lezat dan lembutnya roti tawarku. Mereka tak pernah tahu, bahwa roti tawar itu untuk Nila!
Sisa hari yang panjang tak memberi semangat, tapi mungkin aku masih punya kesempatan mengajaknya makan siang bersama. Maka menjelang pukul dua belas aku sengaja menunggu di depan elevator, pura-pura hendak turun makan. Nanti, ketika Nila muncul dari ruangan untuk istirahat makan siang, bisa turun bersama-sama.
Saat pintu lift terbuka, seorang tamu laki-laki keluar dari kabin menuju resepsionis. Sementara itu beberapa orang keluar ruangan, sebagian dengan kotak rokok di tangan, siap turun makan siang. Lantai tujuh ini memang paling banyak memiliki karyawan. Lobi segera meriah oleh suara mereka yang antri di depan lift. Tak lama kemudian, Nila muncul dari ruangan dengan wajah sumringah. Aku menanti berdebar, siap berebut tempat jika Nila masuk ke dalam lift. Namun yang terjadi, Nila berjalan lurus menuju seorang laki-laki yang berdiri di depan meja resepsionis.
“Hai, tepat waktu kamu!” ujar Nila pada laki-laki itu. Lalu mengucapkan terima kasih pada Sofie, resepsionis yang memanggilnya melalui telepon internal. Perasaanku ciut. Kekasih atau suaminya?
Kami bersama-sama menunggu lift yang selalu penuh di kala jam makan siang. Aku tersenyum kepada Nila. Ia membalas senyumku, tapi seperti lupa kejadian kemarin. Aku tentu tak bermaksud mengingatkan, apalagi di depan laki-laki lain. Entah kenapa, aku bersyukur Nila tak memperkenalkan temannya itu. Dan entah kenapa, sewaktu pintu elevator terbuka, aku tak ikut masuk ke dalamnya. Aku memilih lewat tangga darurat.
Dalam perjalanan pulang ada yang kurasakan hilang. Tapi seperti biasa aku tetap singgah di toko roti langganan. Lama aku berdiri, sampai seorang pramuniaga mengambilkan roti tawar kegemaranku. “Oh ya, terima kasih. Tapi satu saja.”
Ketika tiba di rumah, Ibu sudah menunggu di meja makan dengan wajah yang tampak segar. Aku tersenyum dan mengatakan hendak mandi dulu. Isah menyambut roti tawar yang kubawa seraya bertanya: “Besok pagi mau bawa berapa tangkup?”
“Seperti biasa satu saja. Isi selai kacang.”
Aku pun mandi dengan perasaan ngungun. Ibu masih di meja makan begitu aku selesai mengenakan baju rumah.
“Ibu buatkan kopi, agar letihmu hilang.”
“Wah, terima kasih.” Aku pun duduk di depannya.
“Kamu janji mau ceritakan sesuatu, bukan?”
Kini aku gelisah. Kemudian mencoba mencari cangkir baru. “Kopinya dibagi dua saja.” Aromanya begitu wangi menyergap hidung. Mengingatkan harum kopi Nila kemarin pagi.
Dengan cara yang sungguh mumpuni, Ibu menuang kopi dari satu cangkir ke cangkir lainnya tanpa tumpah setetes pun. Hebat! Mungkin sebelumnya sudah biasa melakukannya. Terhadap Ayah, semasa masih hidup. Eh, bukankah Ayah sudah lama tiada? Tentu sudah lama pula Ibu tak membagi secangkir kopi menjadi dua.
“Bagaimana tentang perempuan kawan kerjamu?” tanya Ibu.
“Boleh aku minum kopi dulu?” aku mengulur waktu. Aku pun menyeruput, dan… ah! Aku menahan lidahku dalam geletar.
“Pahitkah?” tanya Ibu. Pertanyaan yang tak perlu kujawab. Atau justru harus kubenarkan? “Ayah tak pernah minum kopi manis. Itu yang membuat ayahmu kuat, tabah, dan tak mudah putus asa untuk mencapai keinginannya.”
Mungkinkah Ibu menyindirku? Kini aku harus lebih dulu mengajukan pertanyaan. “Sebenarnya sejak kapan aku gemar roti tawar?’
Ibu nyaris tertawa mendengar pertanyaanku. Mungkin kedengaran aneh. Tapi aku serius ingin tahu. Kadang-kadang terpikir, apa enaknya roti tawar? Kata ’tawar’ boleh jadi membuat perasaanku selalu tawar. Kata ’tawar’ menyebabkan segala yang kulakukan berada dalam keragu-raguan: selalu dalam keadaan tawar-menawar. Sedangkan kopi pahit, sebagaimana kata Ibu, membentuk seseorang menjadi kuat, tabah, dan tidak putus asa. Nila menyukai kopi pahit seperti Ayah!
“Pasti Ibu ingat, kapan aku mulai menyukai roti tawar?”
Kini Ibu benar-benar tertawa.

Suara

Cerpen Suara




 Agaknya tak ada lagi yang tersisa. Semua sudah dia lakukan untuk membuat suaranya berpetunang, suara yang bagaikan ditumpangi roh yang bisa menambat dan mempesona hati pendengarnya. Tak dia pedulikan apa kata orang. Dia kelihatannya hanya mendengar dan mengikuti suara-suara yang selalu bergalau di dalam dirinya. Suara-suara yang tak bisa dijelaskan datang dari mana, namun selalu menggema dan memburunya untuk berbuat sesuatu bagi kemerduan suaranya.

 Cerpen Menarik

Suatu ketika, kota nelayan kami gempar ketika dia bergabung dengan serombongan nelayan dan pergi melaut mendekati pinggang Selat Malaka. Dia bukannya benar-benar berniat mau menangkap ikan, tetapi hanya sekedar hendak meresapi bagaimana nelayan-nelayan itu menarik suara, ber-sinandong, ketika pulang menjelang matahari menyuruk di balik kota. Dia terpikat dengan irama sinandong yang dibawakan dengan nada tinggi untuk menitipkan kabar kepada anak-istri lewat angin tentang hasil tangkapan mereka seharian. Lagu itu mulai dilantunkan ketika perahu dikelokkan di tanjung yang kelihatan menjorok dari arus sungai, sekitar dua kilometer jauhnya dari kota. Tentu saja orang-orang tersentak mendengarkan suaranya yang bernada tinggi dengan alunan yang indah, tapi patah-patah, khas sinandong. Dengan begitu dia telah membuat sejarah, karena sepanjang usia seni suara yang sudah ratusan tahun, baru sekali inilah seorang perempuan yang melagukannya.
Alasan mengapa dia ikut melaut, katanya, karena kelompok kasidah yang berlatih seminggu sekali sudah tak memadai untuk kebutuhan latihannya. Bayangkanlah, bagaimana keras kemauannya mengikuti suara-suara yang muncul dari jiwanya, sehingga dia juga pernah mengutarakan niatnya untuk bergabung dengan kelompok paduan suara di gereja satu-satunya yang terdapat di kota kami. Oh Tuhan, untunglah niat itu dibenamkannya. Kalau tidak, oi makjang, apa kata orang? Seorang dara Melayu, anak haji pula, menyanyi di gereja!
Suara-suara yang berdesakan di dalam pikirannya membuat kamauannya seperti angin yang tak terkendalikan. Suatu ketika, matanya berapi-api mendengar kabar bahwa guru mengaji kami, Haji Maksoem, yang hafal Al Quran, dikabarkan memakan rio-rio, semacam jengkerik yang bersuara nyaring. Karena itulah mengapa suara sang guru begitu merdu, garing. Begitulah kata kabar burung itu. Aku tak tahu pasti apakah dia benar-benar keluar malam hari, sendirian membawa suluh, untuk mencari binatang penggirik itu, lantas menggoreng dan memakannya laksana udang. Yang jelas, alunan suaranya memang tak tertandingi. Dia menjadi juara seriosa maupun hiburan untuk seluruh kabupaten, dan setahun kemudian dia mengalahkan semua pesaingnya di tingkat provinsi.
Pada masa itu, belum ada gadis yang berniat meninggalkan kota kecil kami dan pindah ke ibukota provinsi sekalipun itu untuk kebutuhan mendesak, melanjutkan pelajaran, misalnya. Dia hanyut dibawa oleh suara yang berdesakan dari dalam dirinya sendiri dan nekad mengambil keputusan untuk pindah ke Jakarta, mengadu nasib sebagai biduan.
Suara dan gayanya menyanyi yang membuat orang terlena, ditambah nasib yang baik, tentu, dengan cepat melambungkannya ke puncak kesohoran. Kurang dari setahun dia sudah menjadi juara bintang radio tingkat nasional. Dia menjadi orang yang paling diburu wartawan. Matanya, yang bagaikan bintang yang tak kenal redup, dan bibirnya yang sensual bak delima kematangan, menghiasai berbagai majalah. Sungguhpun warna kulit majalah waktu itu cuma hitam-putih, namun tidak mengurangi kejelitaannya.
Ketika tampil di Gedung Kesenian, presiden republik dan seluruh keluarganya datang menyaksikan. Dan manakala pertunjukan selesai, orang paling penting di negeri ini menyelinap ke belakang panggung untuk memberikan sekuntum mawar sebagai isyarat pujian akan suara dan penampilannya. Sesudah pertunjukan malam itu, beberapa kali dia diundang ke istana untuk menyanyi sebagai selingan acara resmi. Dan entah berapa kali pula presiden mengirim ajudan untuk menjemput sang biduan guna menemaninya sarapan pagi.
Suara-suara yang memburu dari dalam dirinya tiada pernah padam, memicu ambisinya untuk selalu paling atas. Sampai datanglah pria, seorang dokter, yang sangat dia kasihi, yang, namun, sayangnya telah membuat pernikahan mereka menjadi anak tanggga terakhir bagi kariernya. Kabar yang tersiar menyebutkan sang suami memingitnya, melarangnya menyanyi dan mengurangi kesempatannya untuk bertemu dengan para penggemar dan teman-temannya. Sang suami bertekad untuk menyembuhkan sang istri dari penyakit berkepanjangan. Buat dia, istri adalah segala-galanya. Yang lain harus menyingkir, termasuk ketenaran. Untuk meredam suara-suara yang berdentam-dentam dan memburu-buru dirinya, sang suami memutuskan untuk membawanya ke seorang psikiater. Sejak itu hidupnya jadi tergantung pada obat. Dan, perlahan-lahan namanya lenyap bersama menuanya generasi yang menjadi pemujanya.
Kupikir Marwah Juwita adalah biduan terbesar yang pernah dimiliki negeri ini. Suaranya adalah puncak kemampuan seorang seniman mencurahkan bakatnya. Kalau mengalunkan suara, jiwanya benar-benar luluh dengan lagu yang dibawakannya, dan di atas panggung gerak tubuhnya mengisyaratkan betapa menderita sukmanya ketika mengalunkan lirik lagu yang melukiskan cinta yang patah, dan betapa menggelora pula hatinya menakala dia beralih ke lagu yang ringan suka cita. Aku menyesal tak memiliki satu pun piringan hitamnya. Kalau melintasi para pedagang barang loakan yang bertebaran di ibukota ini, aku selalu teringat padanya, dan mencari-cari kalau mereka menyimpan barang sekeping piringan hitamnya.
Sudah berpuluh tahun aku tak pernah berjumpa dengannya. Sampai pada satu senja, ketika aku sedang duduk menikmati kopi di kafe yang terletak di seberang Gedung Kesenian, tiba-tiba sepasang tangan meraba bahuku dari belakang.
Kaget. Aku tegak. Di depanku berdiri seorang perempuan dengan senyum yang hampir meledak menjadi tawa. Mulutnya mengulum gigi palsu. Gincu merah yang memoles bibirnya tak bisa menyelamatkan ketuaan yang tergurat dengan nyata pada keriput yang bertumpuk di pojok matanya. Walau tua, namun, matanya tetap berbinar.
“Pinora…!” katanya setengah berteriak menyebutkan namaku.
Aku terdiam beberapa detik sebelum ingatanku padanya membulat, dan kataku dengan mulut agak ternganga, “Marwah Juwita! Aku takkan pernah lupa.” Dan kami berpelukan menenggelamkan kenangan yang bertimbun berpuluh tahun.
Setelah pertemuan itu, boleh dikatakan Marwah menjadi pengunjung tetap kafe yang terletak di seberang gedung pertunjukan di tepi Kali Ciliwung itu, tempat di mana para seniman dari berbagai bidang sering bertemu. Katanya, sudah lama dia mencari-cariku. Dia terutama tedorong mau bertemu setelah beberapa kali membaca puisi-puisi pendekku yang dimuat di koran-koran yang beroplah kecil. Dari dia sendiri jugalah kuketahui bahwa perkawinannya akhirnya kalah juga pada suara-suara yang terus berdesakan dari dalam relung jiwanya. Suara-suara itu tidak mengenal usia. Ketergantungan pada obat penenang ternyata tak kuasa mempertahankan tali perkawinannya. Dia memilih menyerah pada desakan suara daripada terus menjadi seorang istri pingitan. Kini, dia hidup bersama putra sulungnya, seorang insinyur, yang tetap membujang.
Tak sampai sebulan dia menjadi pengunjung tetap kafe seniman itu, Marwah menumpahkan perasaannya kepadaku. Katanya, betapa mujurnya nasibku memilih menulis puisi dan bisa berkarya terus sampai kini, ketika usiaku sudah 70 tahun. Sementara dia, katanya, dengan giginya yang sudah tumbang semuanya mana mungkin menyanyi lagi. Dan dengan mata berkaca-kaca dia menyesali bahwa di antara para seniman yang sering nongkrong di kafe itu tak ada yang mengenalnya sebagai penyanyi tenar pada akhir tahun 1950-an. Kalaupun ada, cuma satu-dua seniman tua yang kadang-kadang saja mampir ke situ. Mereka menyebutkan namanya dengan rasa kagum. Tetapi, para seniman muda tak ada yang menghiraukannya. Di depan anak-anak muda itu, dia merasa lebih rendah dari seorang pelayan.
Bisa kurasakan bagaimana susah-payahnya dia menekan suara-suara yang berdesakan di dalam hatinya, yang menuntut semacam pengakuan bahwa pada suatu masa dia pernah menjadi yang terbaik dari semua orang yang bergulat di bidang yang sama. Namun, kini dia hanya sesosok tubuh yang renta. Tak bernama. Karena itu, dalam setiap kesempatan selalu kuingatkan para seniman muda di sekelilingku tentang siapa wanita gaek yang bergigi palsu itu sebenarnya. Prestasi apa yang telah dia capai. Namun, upayaku tak banyak menolong. Buat para seniman muda itu Marwah Juwita tak lebih dari seorang janda tua yang ingin menunda kematian dengan membuang-buang waktu di sebuah kafe.
Suasana menjadi semakin buruk bagi Marwah. Suatu kali, dia muncul dengan membawa setumpuk sketsa di atas kertas-kerta folio. Rupanya, ketika berada dalam penanganan psikiater tempo hari, dia juga menjalani terapi khusus, melukis. Di antara sketsa itu ada satu yang mengesankan bagiku, yaitu lukisan tentang seorang ibu yang sedang mendekap anaknya sambil berlari melepaskan diri dari cengkeraman badai. Tetapi, buat para pelukis muda yang sempat melihatnya, sketsa-sketsa itu tak lebih berharga dari coret-coret anak kecil yang baru belajar menggambar.
Semingggu kemudian, Marwah datang dengan mengempit map. Dia menggeser kursi dari meja kosong di sebelah dan duduk berjejer dengan seniman-seniman, yang dari segi usia, pantas jadi anak-anaknya. Seperti menahan malu dia membuka map itu dan mengeluarkan selembar foto dari situ. Di situ kelihatan Marwah Juwita yang baru berusia 22 tahun, diapit presiden dan istrinya. Meskipun Marwah berkali-kali menyebutkan gadis yang berfoto bersama Soekarno dan istrinya itu adalah dia, namun para seniman yang mengelilinginya cuma melengos. Seperti tak percaya. Atau mereka juga barangkali tidak begitu hirau. Atau mungkin juga mereka tidak kenal dengan Soekarno.
“Sudahlah Juwita,” kataku membujuknya, “orang zaman sekarang memang gampang lupa.” Dan matanya berseri-seri menahan kebahagiaan ketika kukatakan bahwa aku akan mencarikan teman yang bersedia mencarikan sponsor untuk memamerkan sketsa-sketsanya itu di satu galeri kecil.
Episode pada satu senja dengan selembar foto di dalam map yang diletakkan di atas meja kafe, dengan seniman muda yang tak acuh mengelilinginnya, begitu memukul perasaan Marwah, sehingga dua hari kemudian dia mengatakan kepadaku bahwa dia akan membawakakan foto kopi kliping dari sebuah majalah yang meliput kejuaran nasional seriosa tahun 1952, lengkap dengan foto sang juara, Marwah Juwita tentu, diapit dua penyanyi yang dia kalahkan. “Aku tak akan bosan mengingatkan anak-anak muda itu tentang sepenggal perjuangan hidupku,” ucapnya.
Aku datang jauh lebih awal dari janji yang kami sepakati. Sebagaimana biasa, kupilih kursi yang paling dekat ke tepi Kali Ciliwung, sehinga aku bisa memandang lalulintas di seberang dengan leluasa sambil menghirup kopiku.
Ketika itu Teluk Jakarta sedang pasang. Air kali di bawah kakiku mengalir dengan berat. Tiba-tiba aku melihat dua lembar kertas yang putih bersih mengapung diseret air mendekati undakan batu di bawah kafe. Aku bangkit, menuruni undakan batu dan menyelamatkan kertas tersebut dari permukaan air. Lembar pertama merupakan foto kopi dari satu halaman penuh majalah Star Weekly tahun 1952, dengan tanggal dan bulan yang sudah tak terbaca. Walaupun halamannya sudah kabus, namun laporan lengkap majalah itu dari kejuaraan nasional seriosa masih bisa dibaca. Di tengah halaman terpampang foto Marwah Juwita, sang kampiun, dan dua penyanyi yang kurang mujur di kiri-kanannya. Sedangkan pada lembar yang satu lagi, yang dijepitkan pada kliping tersebut, terbaca tulisan tangan: “Pinora, aku ingat betul kata-kata orang bijak yang sering kau ulang-ulang, tentang betapa mudahnya bangsa ini melupakan. Ratusan, ribuan, mungkin jutaan orang mati dengan kekerasan dalam banyak peristiwa berdarah. Dan orang dengan begitu mudah melupakannya. Apalah aku. Hanya seorang biduan…”
Dua lembar kertas yang masih basah itu kulipat dengan hati-hati. Aku keluar dari kafe menuju perahu penyeberangan yang terletak kurang dari seratus meter di sebelah timur.
“Apakah Bang Ote menyeberangkan Mama tadi?” tanyaku kepada pemilik perahu.
“Ya. Dua kali dia menyeberang. Seperti orang kebingungan. Membawa segulung kertas. Waktu disapa, dia tak menjawab.”
Dua hari berturut-turut mataku seperti berbulu menyimak koran-koran yang haus sensasi, mencari-cari di antara kalimat-kalimat mereka yang ditulis dengan tak berperasaan tentang seorang wanita tua yang tenggelam di Ciliwung atau menghembuskan nafas setelah ditabrak bus kota yang berlari dengan kejam. Aku juga menunggu kalau-kalau koran nasional yang berwibawa menuliskan obituari pendek tentang seorang biduan tenar tahun 1950-an. Tapi, aku tak menemukan nasib Marwah.
Hari ketiga setelah kliping yang dihanyutkan itu kuterima, pelayan kafe menyerahkan sebuah amplop berperangko kepadaku. Di dalamnya terselip dua lembar kertas yang sama seperti yang kupungut dari permukaan Ciliwung. Bedanya, pada kata-kata “Hanya seorang biduan…,” stabilo merah tua digariskan dengan tegas oleh tarikan tangan dari seseorang yang menyesali diri.

Dalam Hening Waktu

Cerpen  Dalam Hening Waktu




     Dalam hening waktu aku tidak mau diganggu. Lepas subuh aku mengambil saat teduh dan mencoba merenungkan sesuatu dan membiarkan pikiran, hati, dan kalbuku mengembara. Kurasakan suatu suasana gairah bertemu dengan Sang Tuhan dan berdialog dengan-Nya setelah menjelajah angkasa mahaluas yang biru. Sebuah suasana syahdu menggelegak dalam kalbu.


Saat teduhku terkadang terentak membuat tubuhku seolah-olah terangkat, mengapung tanpa berat, ketika dering telepon pagi itu berdering. Aku mengadakan konsentrasi lagi, tidak mengabaikan dering telepon yang bertalu-talu, ketika pikiranku mengelana ke batas ruang dan waktu, dan tubuhku terhempas ke padang rumput yang hijau. Suasana nyaman tiba-tiba terganggu lagi, juga, oleh bunyi telepon itu. Aku tidak mengangkatnya. Telah kutetapkan dalam hati, setiap pagi lepas subuh, aku tidak mau diganggu oleh siapa dan oleh apa pun! Mengapa aku tidak bisa menjadi diriku sendiri, bebas dari usikan orang-orang di sekelilingku?
Untuk ketujuh kalinya saat teduhku terganggu lagi. Ah, Jakarta! Jakarta lagi! Mengapa aku terhempas ke Jakarta ini? Di luar hiruk pikuk kendaraan yang tidak ada putus-putusnya. Siang malam jalan-jalan raya padat kendaraan berbagai macam. Orang-orang yang mengejar waktu, mengejar kendaraan, dan dikejar waktu yang tidak berkesudahan membuat diriku terpenjara di belantara gedung-gedung pencakar langit ini. Mengapa mereka menarik aku ke kota yang tidak mengenal batas waktu ini? Di jemaatku di pedesaan, orang-orang ramah kepadaku. Mereka datang ke rumahku atau aku mendatangi rumah mereka, tanpa bunyi telepon segala. Saat teduhku sangat tidak terganggu. Aku dapat membuka jendela dan menghirup udara pegunungan yang segar. Aku dapat menatap puncak gunung dan menyaksikan rombongan burung gagak terbang riuh pada senja hari dan kemudian sepi menyentuh kalbu. Air pegunungan yang jernih, dingin, bersih, melebihi kemurnian air aqua yang tersedia di balik bangunan tinggi ini. Udara pegunungan jauh lebih sejuk daripada AC yang terus-menerus merayapi ruangan tinggalku di tingkat tiga ini. Sempurna sudah keterperangkapanku di udara Jakarta yang menyesakkan ini.
Dering telepon lagi untuk kedelapan kalinya. Suasana hening kulepaskan dari benakku. Aku turun ke kantor di lantai satu. Barangkali ada anggota jemaatku yang betul-betul memerlukan pertolonganku. Keterlaluan telepon itu. Tetapi, siapa tahu ada anggota jemaat yang meninggal dunia dan memerlukan simpati dan doa-doa yang lebih hidup daripada “saat teduhku” ini? Kuturuni tangga dan kucoba menghalau pikiran buruk dari benakku. Biasanya panggilan telepon pagi hari memang bersuasana duka. Sama seperti dering telepon tengah malam.
“Halo? Saya berbicara dengan siapa? Ada sesuatu yang dapat kutolong?” tanyaku.
Di seberang sana hening sejenak, lalu kemudian diikuti desah isak yang tertahan. Aku menunggu dengan ragu-ragu. “Siapa? halo?”
Setelah berlalu hening dalam beberapa detik, kudengar suara perempuan, “Halo? Pak Pendeta?”
“Ya, ada apa, Bu?”
“Bolehkah saya mengganggu?”
“Ya, tidak apa-apa. Ada yang dapat kubantu?”
“Boleh saya datang ke kantor Pendeta?”
“Ya. Tentu. Tentu.”
Kudengar isakan dan kemudian disusul suara serak.
“Pak Pendeta, di tangan kananku ada botol Baygon, sudah lama hendak kuminum dalam ragu….”
“Bu, kedatangan Ibu kutunggu. Datanglah segera. Lepaskan Baygon itu. Datanglah! Saya akan mendengar keluhan Ibu. Sungguh, kutunggu.”
“Baiklah,” jawabnya pelahan. Terdengar bunyi botol diletakkan di atas meja. Lalu, gagang telepon yang ditaruh kembali.
Gawat! Gawat! kataku kepada diriku sendiri. Di pedalaman, jarang ada anggota jemaatku menggantung diri sekalipun kemarau panjang atau hama wereng menggasak padi mereka, atau tikus yang merajalela dan merusak padi yang sedang membesar. Aku tidak tahu seberapa jauh ia dari tempatku tinggal. Ibu itu tidak menyebut namanya dan itu hal biasa karena setiap anggota jemaat menyangka pendeta pastilah mengenali suara anggota jemaatnya. Tak peduli aku sebagai orang baru di kota ini.
Sejam kemudian terdengar bunyi bel pintu. Kubuka pintu dan tampak di depanku seorang ibu berusia kira-kira empat puluhan. Berpakaian rapi. Rupanya manis dan lembut. Pastilah ia seorang ibu yang baik di dalam keluarga.
“Masuklah, Bu,” kataku.
“Saya Dian, Pak Pendeta. Ibu Dian Kesuma.”
“Oh ya! Saya tahu. Saya ingat sekarang,” kataku sambil mengingat-ingat kembali bahwa selang beberapa bulan yang lalu, aku bertemu dengan suaminya di gereja, dan istrinya di sampingnya. Kesan pertama yang kuperoleh, pastilah mereka keluarga bahagia. Dua anak mereka yang masih duduk di bangku SD juga duduk di samping mereka.
“Ada apa, Bu Dian?”
Bu Dian mengeluarkan saputangannya dan menutupi wajahnya dengan saputangan itu. Ia menahan isak. Lama suasana hening. Ia menangis.
Setelah tangisnya reda, kudengar suaranya mulai normal.
“Pak Pendeta. Telah berkali-kali Pak Pendeta kutelepon pagi hari, tetapi tidak ada yang mengangkat. Apakah saya mengganggu?” tanyanya.
Aku mengingat kembali saat teduhku, saat aku tidak mau diganggu. Ketika hening waktu aku bergumul dengan perasaanku sendiri dan mencari keteduhan di bawah sayap Yang Mahakuasa. Pada saat yang bersamaan, di sini ada seorang anak manusia yang memerlukan pertolongan dariku. Tuhan, ampuni aku, kataku kepada diriku sendiri. Betapa egois sikapku. Aku merasa bersalah.
“Maafkanlah saya, Bu Dian,” jawabku, “Ibu tidak mengganggu.”
“Saya mempunyai masalah, Pak Pendeta. Bolehkah saya menceritakannya?”
“Saya akan mendengar,” jawabku. Aku selalu siap untuk mendengar dan memang itulah tugas penting yang diberikan Tuhan kepadaku. Mendengar dan mendengar. Mamahami, menaruh simpati, dan sedikit berkata-kata.
“Pak Pendeta, tadi pagi saya sudah bertekad untuk meminum Baygon kalau telepon kali terakhir itu tidak diangkat. Saya mengatakan kepada Tuhan apabila telepon pendeta ini tidak diangkat sama sekali berarti niatku harus kulaksanakan. Itulah sebuah pertanda bahwa tidak ada lagi gunanya aku hidup di dunia ini.
Tetapi, ketika dering telepon yang terakhir diangkat, saya meletakkan Baygon di atas meja dan buru-buru datang kemari. Tidak ada lagi tempatku mengadu, tidak ada. Pertama kali saya ketahui bahwa suamiku jatuh cinta lagi kepada seorang sahabatku yang karib, kuberitahukan kepada mertuaku, tetapi mereka mengatakan bahwa itu fitnah. Saya tanyakan gosip itu kepada suamiku, dijawabnya tidak ada apa-apa. Hubunganku dengan pihak keluarga suami menjadi retak. Mereka mengatakan bahwa saya menantu yang tidak tahu diri. Hal ini pun kuberitahukan kepada pihak keluargaku, mereka mengerti keadaanku dan memahami persoalanku, tapi mereka mengatakan bahwa mereka tidak dapat melakukan sesuatu karena kami menikah atas dasar suka sama suka sekalipun mereka tidak merestuinya. Hari demi hari kulalui dengan perasaan yang campur aduk. Suamiku bersikap biasa-biasa saja. Kalau ia pergi ke luar kota karena dinas, ia memberitahukan sebagaimana adanya. Kecurigaanku tidak mungkin kuceritakan kepada temanku yang paling dekat pun karena mereka pun dekat dengan perempuan yang kucurigai. Tetapi, hati nuraniku mengatakan lain.
Kerap kali kami bertengkar ketika anak-anak sudah tidur, hanya karena soal-soal kecil saja. Di mata suamiku, saya mendapat kesan, saya seperti penghalang bagi dirinya. Entah mengapa saya beroleh kesan seperti itu, saya tidak tahu. Sering ia marah-marah tanpa alasan. Kucoba mengalah, berdamai dengan diriku sendiri. Semua prasangka burukku kuhalau dari kalbu. Saya berusaha menjadi ibu yang baik kepada anak-anakku. Segala kasih sayangku kucurahkan kepada kedua anakku. Merekalah tumpuan harapanku. Mereka tidak mengetahui apa yang terjadi antara saya dan ayah mereka. Berbulan-bulan saya berusaha mendamaikan diriku sendiri.
Tetapi, belakangan saya sering mendapat telepon entah dari siapa. Dari seorang perempuan yang selalu bertanya di mana suamiku. Saya merasa risau mengapa ia begitu peduli dengan suamiku. Kukatakan hal ini kepada suamiku, tetapi ia mengatakan supaya hal itu dilupakan saja. ’Sekarang ini banyak perempuan iseng yang sekadar mengganggu keluarga orang.’ Akan tetapi, saya justru bertanya-tanya kepada diri sendiri, mengapa perempuan itu menanyakan suamiku pada jam-jam kantor ke rumah. Pastilah ia tahu bahwa suamiku ada di kantornya. Beberapa waktu belakangan ini, telepon dari perempuan yang sama (walaupun volume suara yang agak berbeda) menanyakan di mana suamiku dan ia ingin meminta pertanggungjawaban. ’Pertanggungjawaban apa?’ tanyaku. ’Atas perbuatannya!’ jawabnya singkat, lalu memutus telepon.
Malam hari kutanyakan hal itu kepada suamiku. Tampaknya ia grogi dan berdiam diri. Kali ini tidak bereaksi dengan kemarahan seperti biasanya. Malah ia berdiam diri, sampai akhirnya saya mendesaknya. Ajaib, kali ini ia minta maaf kepadaku. ’Maafkanlah saya, Dian. Terlalu lama saya bersandiwara denganmu. Maafkanlah saya!’ ’Apa yang harus kumaafkan? Kau terlibat dengan perempuan yang kucurigai itu?’ ’Ya,’ jawabnya perlahan. Saya merasa tanah tempatku berpijak runtuh, menganga, dan saya tenggelam ke dalamnya. Saya menangis sejadi-jadinya. Semalam-malaman air mataku membasahi bantalku. Saya tidak tahu hendak berbuat apa. Suamiku dengan terus terang mengakui kesalahannya kali ini dan memohon kepadaku maaf. Tetapi, maaf apa yang hendak kuberikan kepadanya? Haruskah saya melupakan peristiwa itu, sementara teror telepon datang dari waktu ke waktu?
Pak Pendeta, beberapa waktu yang lalu, ketika bangun pagi, saya menemukan sebuah surat di atas meja. Kubuka surat itu. Isinya? Aduh, dunia sudah kiamat bagiku. Ia meminta maaf dan pergi untuk selamanya dari sampingku dan samping anak-anakku. Ia memberitahukan bahwa kedua rumah yang dibeli dan ditempati atas namaku diserahkan padaku.
Kuhubungi keluarga pihak suamiku di mana keberadaan putra mereka, suamiku, tetapi mereka menjawab ’Tidak tahu.’ Bahkan, mereka balik bertanya mengapa seorang suami meninggalkan istri dan anak-anak, pastilah karena istri yang tidak becus. Saya sakit hati sekali. Berminggu-minggu saya mencarinya ke mana-mana, tetapi tidak berhasil menemukannya. Orang kantornya pun mengatakan bahwa sudah lama ia tidak masuk kantor. Anak-anak menanyakan di mana ayah mereka, kujawab bahwa ia sedang bepergian ke luar kota untuk waktu yang lama.
Dalam situasi kemelut ini saya dikejutkan lagi berita bahwa kedua anak saya diambil pihak keluarga suamiku dari sekolah. Kiamat yang lain menimpaku lagi. Apa arti hidup ini bagiku, tanpa suami, tanpa anak dan tanpa keluarga? Di mana Tuhan, Pak Pendeta? Mengapa Dia membiarkan ini semua terjadi kepada diriku?…”
Perlahan aku menjawabnya, “Tuhan selalu mengasihi orang yang teraniaya, Bu Dian. Ia melihat deritamu, Ia memberi kekuatan kepadamu sampai suatu saat jalan terbaik ditunjukkan-Nya kepadamu.”
Kulihat ia menarik napas dalam-dalam sambil menghapus titik-titik air mata dari pipinya. “Saya mendoakanmu, Bu Dian. Jangan putus asa. Tuhan akan menunjukkan jalan terbaik bagimu. Sabarlah. Jangan ikuti jalan iblis yang menggodamu, yang membawamu ke tempat yang tidak kaukehendaki. Serahkan jalan hidupmu kepada Tuhan, maka Ia akan menyelamatkanmu….”
Kata itu frase dari Kitab Suci, yang kupetik untuknya. Aku tidak tahu apakah itu dapat menghiburnya dan memberi kelegaan baginya. Aku sendiri pun pada saat teduh lebih memikirkan hening waktu daripada kenyataan yang kuhadapi. Tapi pasti, Tuhan yang ada di seberang sana tetaplah Tuhan yang memerhatikan jalan hidup manusia. Manusia adalah pelakon bagi hidupnya dan perannya yang dipilih sendiri berlangsung di pentas kehidupan itu sendiri.
Beberapa minggu kemudian dering telepon subuh hari mengentakkanku dari saat teduh yang terganggu. Segera kuangkat telepon. “Halo?” Dari seberang sana ada suara yang mudah kukenali. “Halo, Pak Pendeta. Ini Ibu Dian Kesuma. Perlu Pendeta kukabari bahwa kedua rumahku yang ada di Jakarta telah kujual. Sebagai anggota jemaat Anda, saya pamit. Saya akan pergi ke negeri seberang. Mencoba melupakan segala sesuatu. Kendaraan pun telah saya jual karena di negeri yang baru itu saya akan belajar melupakan sesuatu yang pernah singgah dalam hidupku. Terima kasih atas nasihat Pak Pendeta. Saya akan naik pesawat pertama pagi ini. Maafkan saya yang telah mengganggu saat teduh Pak Pendeta. Semoga di angkasa sana, kalau Tuhan mengizinkan, saya dapat merenungkan ciptaan kemuliaan Tuhan. Dari angkasa kita tahu bahwa manusia tak lebih dari setitik air yang akan lenyap dan menguap di udara. Selamat tinggal….”
Aku pun tenggelam dalam hening waktu.

Ajaran Kehidupan Seorang Nenek

Cerpen Menarik : Ajaran Kehidupan Seorang Nenek


        Jauh-jauh aku datang, dimulai hari pertama aku sudah mendapat kekecewaan.
Ibu tidur di kamar Puspa, tapi tidak boleh menggendong dia,” kata anak sulungku.
“Kalau dia terbangun dan menangis?”
“Biarkan saja! Anakku tidak kubiasakan digendong.”
Seolah-olah dia tidak yakin bahwa aku mengerti kata-katanya, anakku mengulangi, nada suaranya terkesan mengancam,
“Betul lho, Bu! Jangan sampai begitu Ibu pulang, aku direpoti anak manja dan terlalu minta diperhatikan!”
Barangkali karena kaget, aku terdiam. Bayangkan! Hanya ibuku yang seharusnya berhak berbicara dalam nada seperti itu kepadaku. Aku tersinggung. Semakin umur bertambah, sakit hati semakin sering kualami.
Aku direktris suatu rantai usaha swadaya yang boleh dikatakan sukses. Semua karyawan di tempatku hormat kepada, berbicara nyaris kuanggap berlebihan terlalu sopan bagiku. Di saat-saat mengunjungi perusahaan atau kantor lain, orang-orang menerimaku dengan sikap dan pandang ering 1) yang acapkali membuat aku merasa risi sendiri. Meskipun aku tahu pasti bahwa kelakuan mereka itu didasari pengakuan terhadap kenyataan yang tidak bisa dibantah. Karena selain disebabkan oleh kedudukanku, upayaku pengembanan usaha kami ke lain daerah yang berhasil, lebih-lebih sebagai perempuan aku mampu mengendalikan serta mempertahankan kesuksesan wiraswasta yang ditinggalkan ayahku. Walaupun benar itu “hanya” berupa warisan. Tapi, itu jatuh ke tanganku tidak secara otomatis, dengan cuma-cuma. Aku harus melewati tes di antara empat saudara kandungku.
Dalam sebuah dongeng diceritakan bahwa raja di suatu negeri tidak dapat memutuskan kepada siapa pun dia akan menyerahkan takhtanya. Dia mempunyai empat anak, putra dan putri. Masing-masing berpenampilan cakap, dan sepintas lalu kelihatan berperilaku baik. Namun, sang raja tidak yakin bahwa putra sulungnya yang suka berpesta akan memerintah secara adil sehingga rakyat akan bahagia. Begitu pula dengan putra keduanya. Walaupun pandai berulah senjata, namun kebiasaannya mabuk-mabukan dan berjudi merupakan ancaman besar bagi kelangsungan pemerintahan yang harus didasari kejernihan pikiran dan hati tenang. Anak yang ketiga dan keempat adalah perempuan. Paras cantik, kelakuan lembut, mumpuni dalam mengatur urusan rumah tangga ataupun penerimaan tamu. Keduanya juga sudah diajari dasar-dasar mempergunakan senjata seperlunya sehingga jika bahaya datang, mereka tahu mempertahankan diri atau keraton bahkan kerajaan.
Pendek kata, sang raja kebingungan memilih satu di antara empat anak tersebut. Maka agar tidak menimbulkan kecemburuan, ayah itu menyuruh anak-anaknya mengembara selama kurun waktu tertentu. Selain mereka harus mendapatkan pasangan masing-masing, juga harus pulang membawa tambahan pengetahuan yang bisa digunakan untuk masyarakatnya.
Ayah kami bukan seorang raja, ibuku bukan keturunan bangsawan.



 Tapi mereka telah membangun satu usaha kecil dari cucuran keringatnya. Sebagai modal, ayahku tidak berutang atau meminjam, melainkan menjual sepedanya. Dari memotong, menjahit dan menjual sendiri sandal-sandal hasil buatannya dari pintu ke pintu calon pembeli, sampai kemudian mempunyai toko. Lalu ibuku menambahkan membikin tas-tas bagor dan aneka anyaman dari bahan alami yang dikeringkan. Selang beberapa waktu, kombinasi dibuat untuk memanfaatkan limbah kulit asli atau sintetis.
Ketika akan menambah karyawan, aku baru lulus sekolah menengah atas. Kukatakan, mengapa tidak mempekerjakan orang-orang sekampung saja di rumah mereka masing-masing. Mereka diberi bahan sebagai pinjaman. Jika hasilnya bagus, kami beli. Setelah diperbaiki atau disempurnakan guna menjaga mutu dan nama baik, kami jual di toko. Itulah asal mula mengapa di kawasan tempat kami tinggal, sekarang terdapat begitu banyak pengrajin sandal, sepatu, dan tas yang terbuat dari aneka bahan. Beberapa tetangga bahkan mencoba pula mendirikan toko. Tapi hingga sekarang, hanya produk kami yang berhasil memiliki tingkat penjualan memadai, bahkan melayani pesanan dari luar negeri.
Kakakku sulung sudah berkeluarga sejak aku masih duduk di SD. Dia bekerja sebagai sopir. Kuliahnya terhenti sebelum tahun pertama selesai. Kakak kedua perempuan lebih berhasil menjadi penjual makanan matangan. Suaminya adalah tukang becak. Setelah selesai shalat asar, setiap sore dia menyorong gerobak ke pinggir jalan, ditinggal di sana. Lalu iparku balik lagi sambil mengusung dadangan bersama istrinya. Dengan cara demikian, sekarang dua anak mereka bersekolah di akademi akuntansi dan informatika, yang seorang di kelas tertinggi SMA. Saudara kandung yang tepat di atasku tidak lulus SMP, bekerja di bengkel. Bisa dikatakan hidupnya berhasil karena mampu membeli tiga kendaraan yang disewakan sebagai angkutan. Kadang terdengar berita dia ditipu sopir yang dipekerjakannya. Tapi di depan keluarga, dia tampak tenang saja, selalu mampu mengatasi semua kesulitannya.
Aku sendiri, mungkin karena aku anak perempuan bungsu, maka aku lebih senang bermain dengan limbah apa pun yang terdapat di lantai di ruangan menjahit dan menggunting aneka bahan. Ketika duduk di taman kanak-kanak, aku memberikan sebuah bantalan tempat mencocok jarum berbentuk ikan kepada ibuku. Itu adalah hadiah ulang tahunnya. Sampai sekarang, benda tersebut masih digunakan, mendapat tempat di kotak jahitan ibu kami. Untuk seterusnya, sekolahku aman-aman saja hingga aku mampu menyelesaikan kuliah dan menggondol gelar sarjana ekonomi. Aku sadar bahwa keluargaku sangat bangga dengan pencapaian gelarku tersebut. Apa lagi di masa itu belum marak didesuskan orang tentang pembelian ijazah ataupun gelar.
Setelah berunding sekeluarga, kami empat bersaudara dikirim ke seluruh penjuru Tanah Air untuk mencari kemungkinan pengembangan, baik kemitraan ataupun kerja sama di bidang niaga kerajinan. Masing-masing diberi sejumlah uang, dan kami disuruh memilih sendiri ke mana tujuan kami. Setiap hari Kamis harus mencatat semua pengeluaran secara teliti. Seorang dari kami yang dianggap paling berhasil akan menerima tanggung jawab tiga toko bersama atelir pengrajinnya sekalian.
Ternyata kakak-kakakku tidak menggerutu menerima tugas itu. Mereka mempunyai hubungan atau teman bekas sekolah yang tersebar di berbagai kota Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Bahkan kakakku perempuan, yang kelihatannya tidak keluar dari lingkungannya, langsung berkata akan ke Bandar Lampung, mencari kemungkinan kerja sama dengan sebuah toko di sana. Rupanya hanya diriku yang bingung ke mana harus pergi. Aku tidak begitu pandai bergaul. Bekas teman-teman sekolah atau kuliah tidak ada yang bisa kuandalkan. Selain yang tinggal sekota, tidak kuketahui di mana mereka lainnya menetap.
Setelah berpuasa dan berdoa menuruti ajaran orangtua, aku menetapkan tujuan: Bali. Orangtuaku hanya diam mendengar itu. Kakak-kakakku tertawa atau tersenyum tanpa kuketahui apa maknanya. Di waktu itu, pariwisata baru sayup-sayup menunjukkan pengembangannya. Walaupun di Bali dibikin aneka kerajinan sebagai benda kenang-kenangan, apa salahnya jika kami kirim pula hasil dari Bantul. Siapa tahu dengan keberuntungan dan nasib baik, aku akan menemukan mitra sejajar yang bisa diajak bekerja sama dalam hal pemasaran produk kami.
Wahyu Ilahi ternyata tidak dapat diabaikan. Aku kembali dari perjalananku dua pekan kemudian bersama seorang pemuda. Juga kemungkinan dapat mengirim ratusan mungkin ribuan benda dagangan ke berbagai kios dan toko di Pantai Kuta serta sebuah toko eksklusif di Ubud. Setelah masa tunangan beberapa bulan, aku dinikahi seorang anak pemilik sebuah restoran di Sanur. Menurut adat, lebih dulu aku diangkat menjadi anak oleh seorang pegawai rumah makan itu yang berkasta sudra supaya dapat kawin dengan upacara Hindu Bali.
Kulewati berbagai cobaan yang menggoyahkan keteguhan batinku. Terus terang, gelombang dan alun yang melanda bahtera kehidupanku nyaris meluluhlantakkan ketegaranku. Aku mensyukuri “kebebasan” ibuku sebagai perempuan Jawa dalam mengatur rutinitas keseharian, namun tidak membosankan. Yang dinamakan aturan ini-itu sehubungan dengan tradisi Jawa tidak terlalu mengekang atau menyita waktu.
Terjun bebas tanpa paksaan ke lingkungan tradisi dan rutinitas sehari-hari di Bali, aku hampir kehabisan napas karena kekurangan waktu ataupun ruang gerak. Semua serba upacara. Semua serba penyiapan sesaji. Memang benar aku belajar banyak. Aku menyukai serba-neka ajaran menganyam serta mendekor sesaji. Tapi, aku tidak kuasa hadir di dunia ini hanya untuk melakukan hal-hal tersebut. Tekanan lebih-lebih datang dari mertuaku perempuan. Dia menginginkan aku mengganti kedudukannya kelak sebagai tetua wanita dalam keluarga. Padahal ada dua menantu perempuan lain. Semua impitan keharusan untuk melaksanakan upacara itu membenihkan kerikil-kerikil di dada, hingga pada akhirnya membentuk satu bongkahan yang mengimpit pernapasanku. Untunglah aku masih sadar bahwa aku sedang melayang-layang di ambang stres. Lalu kuputuskan untuk bertindak demi kesehatan rohani dan keutuhan kepribadianku sendiri.
Aku purik 2). Satu anak perempuan yang sudah sekolah kutinggal, seorang balita dan bayi kubawa. Satu bulan penuh aku berkeras-kepala tidak pulang ke rumah tanggaku.
Akhirnya, suami menjemput dan berkata bahwa ibunya menyetujui semua keinginanku untuk kurang berperan sebagai penyelenggara aneka keperluan tradisi dan upacara. Kukatakan bahwa tidak ada gunanya sekolahku bertahun-tahun jika akhirnya harus hanya mengurusi upacara-upacara yang sebenarnya dapat diserahkan kepada orang lain. Bukannya aku merendahkan ritual tersebut! Waktuku memang untuk keluarga, namun aku juga mempunyai tanggung jawab perusahaan yang di masa itu sudah diserahkan total kepadaku oleh orangtua dan kakak-kakakku. Setiap akhir tahun, mereka tinggal menerima bagian keuntungannya saja.
Pengalaman itu bisa dikatakan ringan jika didengar. Tapi bagi yang menjalani, merupakan tahun-tahun penuh tekanan. Sebab, yang disebut upacara di Bali nyaris terjadi setiap hari setiap saat. Sedangkan perempuan adalah tiang utama bagi pelaksanaan tradisi karena merekalah yang menyiapkan serba uborampe 2)-nya.
Kini di usia yang mendekati enam puluh tahun, aku mendapat ajaran lain, yaitu bagaimana mengendalikan perasaan sebagai seorang nenek. Aku tidak dihadapkan kepada cucuku, melainkan kepada ibu si cucu itu. Anak terkejut. Mentalku tidak siap untuk itu. Di sekolah dan perguruan tinggi aku tidak pernah mendapat pelajaran bagaimana menjadi seorang nenek.
Anak sulungku yang biasanya tidak membantah atau mengguruiku di waktu-waktu sebelumnya, kini setelah tinggal di rumahnya sendiri, dapat dikatakan dia menggelincir lepas dari sela-sela jari tanganku. Sewaktu dia melahirkan, aku diminta datang untuk menemani di klinik, lalu mendampingi sebagai ibu baru di rumahnya. Karena suaminya orang Jawa, selamatan yang kujalankan adalah brokohan. Secara sederhana, kami mengirim nasi beserta sayuran bumbu urap 3) dengan kerupuk dan gereh 4) layur ke lingkungan tetangga maupun teman dekat.
Selama selapan 5) bisa dikatakan beberapa kali aku mondar-mandir memantau keadaan anakku dan bayinya. Tak tersirat gejala-gejala kepemilikannya yang ekstrem mengenai anaknya. Tiga bulan kemudian mereka berangkat ke Australia di mana si suami akan meneruskan belajar. Di waktu itu pun, belum terlihat tanda-tanda “kebengisan” anak sulungku terhadapku.
Aku percaya bahwa mempunyai cucu adalah impian semua nenek sedunia. Setelah begitu lama tidak menggendong atau menimang bahkan memandikan bayi, tentu saja aku ingin sekali melakukannya. Apalagi cucuku sendiri, manusia mungil yang keluar dari rongga perut anakku perempuan yang dulu pada waktunya juga keluar dari badanku.
Keesokan hari dari kedatanganku, setelah mendapat berbagai indoktrinasi mengenai aturan dalam rumahnya, aku mendapat teguran lagi,
“Kalau mengeringkan badan Puspa tidak begitu, Bu. Mana, biar aku saja! Ibu kan sudah memandikan! Biar sekarang kutangani….” dengan gerakan setengah merebut, anakku mendesakku ke samping.
Aku diam, mencari kesibukan dengan membenahi barang-barang, ke kamar mandi akan membuang air dari wadah.
“Sudah biarkan, Bu! Biar kukerjakan nanti! Ibu tidak tahu tempat benda-benda…!” dari jauh anakku berseru menggangguku dengan “perintah”-nya.
Sewaktu tiba saat menyuapi si bayi, aku tidak mau mengalah. Sebagaimana tadi dia merebut kain handuk dari tanganku, aku setengah memaksa mengambil mangkuk makanan cucuku. Bayi usia delapan bulan sudah diberi makanan agak ketat. Tidak seperti ibunya yang dulu kuberi makan pisang dicampur nasi lembek, cucuku diberi makanan spesial untuk bayi yang dijual di toko-toko tertentu.
“Didudukkan yang tegak lho, Bu. Jangan sembarangan menyuapinya! Nanti dia tersedak!”
Nyaris kujawab: aku suda berpengalaman menyuap bayi-bayi lain, termasuk kamu. Tapi aku berhasil mendinginkan kuping, berusaha mengabaikan si ibu sekaligus anak yang maunya sok paling tahu itu. Selesai memberi makan, ketika ibunya mandi, kumanfaatkan waktu bersama cucuku sebaik mungkin. Untuk mengeluarkan udara dari perutnya, dia kudekap ke arah bahu dalam posisi tegak. Aku berjalan ke sana kemari, singgah ke depan jendela besar yang memantulkan bayangan kami berdua di kacanya. Walaupun yang tampak hanya bayangan punggung si bayi dan wajahku, aku puas melihat diriku memeluk cucu. Kuajak dia berbicara, kuayun-ayunkan tubuhku. Dan sewaktu sendawa sudah keluar, kugendong dia dengan cara semestinya, melekat di dada menghadap ke depan sambil kami berpandangan. Aku terus mengucapkan kata-kata apa saja agar dia mendengar suaraku, agar menerka nadaku bahwa aku ingin bersahabat dengan dia.
Karena menerima sambutan anakku yang tidak menyenangkan itu, aku ingin mempersingkat kunjunganku. Di saat aku sedang menimbang-nimbang keputusanku, adikku menelepon memberi tahu bahwa ibu kami masuk rumah sakit. Ini adalah yang kedua kalinya selama sebulan ibu harus diopname. Jadi aku akan segera pulang.
Barangkali memang harus demikian. Setiap orangtua menganggap dirinya yang paling tahu, yang paling “kuasa” menentukan segalanya, padahal kenyataannya masih ada yang lebih kuasa lagi, yaitu Tuhan. Jika sekarang anakku mengira dia berhak melarangku berbuat sesuatu terhadap anaknya, cucuku, mungkin dia benar. Lingkungannya telah menempanya bersikap begitu. Aku hanya seorang nenek, sedangkan dia adalah ibu bagi anaknya.
Pengalaman ini harus kucermati sebagai satu pelajaran guna menyambut kelahiran cucu-cucuku lainnya. Untuk kesekian kalinya kunyatakan bahwa belajar tidak ada batasan waktu dan usia.

Laut Lepas Kita Pergi

Cerpen  Laut Lepas Kita Pergi



 Ketika Ayah meninggalkan tempat permukiman, hanya kulihat punggungnya yang setengah bungkuk. Kemejanya yang lusuh mengandung banyak lipatan, warnanya buram, dan aku tahu itu bukan miliknya. Ia berjalan tidak terlampau cepat, tetapi jarak antara kami semakin lebar. Semakin terasa bahwa ada bentangan yang segera akan memisahkan kami. Mungkin satu, dua, atau bahkan ratusan kilometer.Sebelum pergi, kurang lebih sepuluh menit yang lalu, Ayah mengatakan, “Aku percaya, kamu bukan pemuda cengeng. Hampir sebulan kita telah menangis bersama-sama. Itu cukup. Tidak perlu diperpanjang lagi. Kita sudah saling berusaha untuk menemukan ibumu. Juga kedua adikmu. Percayakan itu kepada Tuhan. Mungkin kini tempat mereka lebih lapang dibanding kita saat ini. Mungkin tidak ada lagi pikiran yang membebani mereka. Tinggal kita, mau hidup terus atau perlahan-lahan mati.”Mata Ayah memandangku tidak lagi senyalang elang. Tidak ada kemarahan dalam kata-katanya. Aku merasakan ucapan Ayah begitu serius, tetapi tidak mengandung tekanan. Ia bicara seperti sedang menceritakan tentang kegiatan sehari-hari. Begitu datar. Tetapi, hatiku terkesiap mendengarnya.


“Aku akan berangkat pagi ini juga, sebelum orang ramai ke jalan-jalan. Sebelum banyak ibu-ibu antri di kamar mandi umum. Sebelum tampak asap di dapur terbuka itu. Aku percaya, kamu akan sanggup menghadapi hari depanmu sendiri. Aku melihat ototmu yang kuat, badanmu yang sehat, dan terutama perasaanmu yang tabah. Ingat! Jangan pernah menangis lagi.”
Bibirku mendadak gemetar. Seperti ada ribuan kata-kata berkerumun di ujung lidah. Berdesakan ingin meletup, mendorong dinding gigi. Membuat rahangku keras seperti terbuat dari logam. Tetapi, tak ada suara yang sanggup keluar dari mulutku.
“Aku menulis surat untukmu, karena kukira kamu tak akan bangun saat subuh. Bacalah setelah matamu tak mampu memandang bayanganku. Sampai suara panggilanmu tak mungkin kudengar lagi.” Ditepuk-tepuknya bahuku, seolah-olah aku sendiri yang berduka dan dia berperan sebagai sang bijak yang berusaha menghiburku. “Maafkan aku jika selama menjadi ayahmu tak pernah membuatmu bahagia.”
Tidak ada pelukan dari Ayah. Tangannya mengusap pipiku, terasa kasar. Keriput yang terbentuk dari serangkaian kerja keras itu berusaha melekat di paras mukaku. Aku mencium bau khas yang barangkali tak terhapus dalam sewindu.
Dan kini Ayah telah melangkah memunggungiku. Ke arah selatan. Seperti memberikan isyarat bahwa di sana akan menjadi akhir dari pengembaraannya.
Begitu sadar Ayah telah semakin jauh: hanya kulihat punggungnya yang setengah bungkuk dan segerumbul pohon yang miring di ujung pandangan siap mengaburkannya, aku segera berlari ke dalam tenda. Jika benar Ayah menulis surat untukku, tentu disimpan tak jauh dari alas tidurku. Memang kutemukan selipat kertas lembap yang tampak baru saja disisipkan ke bawah timbunan sarung.
Aku berdebar membuka lipatan surat itu seakan-akan hendak membaca isi testamen. Ternyata hanya beberapa baris kalimat yang mudah dihapal setelah membaca dua kali.
“Mustafa, anakku. Aku terlampau sedih dalam peristiwa kehilangan ini, dan mungkin sebentar lagi menjadi gila. Aku akan pergi. Mudah-mudahan kamu tetap kuat untuk tinggal. Aku ternyata seorang pengecut. Selamat tinggal.”
Aku melompat bagai tersengat kalajengking. Tanpa sadar aku telah melanggar permintaannya untuk tidak memanggilnya. Aku berlari sekencang-kencangnya menuju arah Ayah berjalan. Tapi sampai aku terengah-engah, tak kutemui lagi bayangan Ayah. Mungkin tikungan, atau bekas tikungan, telah menyembunyikan arah langkahnya. Sandalku telah lepas entah ke mana. Tanah becek dan kerikil yang menghunjam telapak kakiku tak benar-benar kurasakan sakitnya. Lebih sakit perasaan dalam relung dadaku. Pisau sepi menoreh begitu dalam. Baru saja Ayah pergi, tapi kesepian begitu lekas menyergap. Aku seperti menjadi seorang diri di dunia. Dari seorang piatu menjadi sekaligus yatim dan sebatang kara. Terasa hidup sendiri di bawah langit yang selalu mendung. Jauh dari laut tapi gemuruh itu tak pernah mau hilang dari rongga telingaku.
Kini aku berjalan lunglai kembali ke permukiman sementara. Kata sementara itu mulai terasa tak terbatas. Terutama bagiku yang kini sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Satu-satunya tumpuan harapan telah meninggalkanku. Pergi begitu saja. Hanya meninggalkan kata-kata yang justru membuatku semakin terpuruk.
Memang sekarang bukan lagi saatnya untuk terus menangis. Setiap hari kuhabiskan waktuku untuk menanyakan kabar dari timur, barat, selatan, dan utara. Dari seluruh penjuru mata angin. Adakah yang menemukan Meutia? Adakah yang mendapatkan sosok Hasan? Adakah yang sempat bersimpang jalan dengan Siti Salamah?
Bahkan andai kata telah berbentuk jenazah!
Atau mungkin tinggal serangkai belulang dari tubuhnya yang terhimpit rangka bangunan. Bekas perjalanan yang tak lazim: terseret sekian kilometer bersama puing dan ombak berwarna coklat. Terhempas dan hanyut berkali-kali.
Atau sekadar sobekan pakaian terakhir yang dikenakannya menjelang gelombang tsunami datang. Mungkin aku masih sanggup mencium aroma sisa tubuhnya, di antara lumpur dan segala yang hancur. Aku akan memeluknya untuk penghabisan kali sebelum kurelakan masuk ke dalam lubang bersama mayat lain yang baru ditemukan. Tanpa nama, kecuali jika aku menandainya dengan setulus hati, lalu berusaha mengingat letaknya.
“Ayah, mungkinkah kita akan sanggup menziarahi mereka?”
Namun, aku tidak lagi bersama Ayah. Dia sudah pergi dan kini mungkin telah tiba di wilayah lain yang juga tidak dikenalnya karena suasananya sudah berubah. Sementara aku akan tetap tinggal di sini, bersama beberapa penduduk yang masih bertahan dengan keadaan seperti ini. Bersama beberapa tentara yang kulihat juga mulai bosan dan kusut mukanya.
Ketika Ayah memberiku sepucuk rencong, aku baru saja selesai menunaikan SMP. Umurku menjelang lima belas tahun.
Usai menerima pengumuman kelulusan, aku bersama teman- teman merayakan dengan cara membakar baju seragam di tengah ladang. Anak seorang juragan kambing menyumbangkan seekor domba untuk pesta syukuran. Aku pulang menjelang magrib dengan perasaan mekar sumringah. Setelah libur panjang aku akan memasuki dunia sekolah yang lain. Seolah- olah ada selembar kertas harapan untuk ditulisi segala keinginan. Dicoret-coret dengan gambar impian sekehendak hati. Aku pun berjalan sambil bersiul-siul.
Di pintu pagar rumah aku mendapatkan mata Ayah yang nyalang seperti elang. Aku serentak menduga ada hal yang sangat penting dan mungkin akan disampaikan dengan nada marah. Firasat itu begitu kuat, membuat dadaku berdegup kencang. Rasa takut menjalar. Semua ingar-bingar yang tadi mengepung api unggun perayaan pesta lulus sekolah, langsung sirna.
“Mustafa!” panggil Ayah.
“Ya, Ayah.” Aku mempercepat langkah. Dengan dada terbuka seperti ini, tentu tampak bagai menantang. Tapi, ya, bajuku sudah sempurna menjadi abu di persawahan kering dua jam yang lalu.
“Ayah mau amanatkan sesuatu kepadamu! Duduklah!”
Perasaanku mengkerut. Serambi rumah tampak sepi. Langit redup. Sebentar lagi akan terdengar suara azan dari surau di belakang rumah. Aku segera duduk di bangku kayu yang terletak setengah miring di teras.
“Ayah, hari ini aku lulus sekolah.” Aku mencoba meredakan gejolak dengan cara menyampaikan berita gembira. Siapa tahu akan menurunkan temperamen Ayah. Tapi ternyata tak mengubah apa pun.
“Aku tahu! Karena itulah aku memanggilmu. Sudah saatnya kamu menerima ini,” Ayah mengangsurkan sebuah benda yang masih tertutup oleh kain putih, “Bukalah!”
Dengan agak gentar, aku melolos kain kafan yang sudah tidak baru lagi. Serta merta terkejut, meski sudah menduga dari bentuknya, ketika mendapatkan sebuah rencong yang masih mengkilat meskipun gagangnya berupa kayu yang sudah berumur panjang.
Mendadak tanganku gemetar. Apa maksud Ayah memberiku sebuah benda tajam yang berbahaya ini? Setiap menghadapi logam tajam, apalagi dengan beberapa lengkung yang mirip ukiran, aku merasa sedang berhadapan dengan masalah besar.
“Ayah… ini sebuah rencong….”
“Syukurlah kamu tahu. Aku tak bisa menunda waktu lagi. Sudah saatnya kamu memahami arti bahaya di luar sana.”
Aku memandang sekitar. Kukira Ayah keliru dalam menilai situasi. Desa kami daerah yang paling aman. Bahkan, jarang menjadi lintasan anggota Gerakan Aceh Merdeka, secara terang-terangan maupun menyamar.
“Kamu mulai bertanggung jawab melindungi keluargamu. Bahu-membahu dengan Ayah. Jaga keselamatan Meutia dan Hasan. Sementara aku akan menjaga Salamah, ibumu.”
Tanganku semakin gemetar mendengar penjelasan Ayah. Seperti sebentar lagi akan meletus perang. Sementara angin senja kala bertiup lebih dingin dari biasa. Kemudian terdengar azan magrib berkumandang. Entah siapa yang menjadi muadzin sore ini, suaranya terdengar mendayu-dayu. Mengiris liang telinga seperti pipih sembilu.
“Ayo lekas simpan rencong itu! Kini menjadi milikmu. Jangan dibiarkan telanjang, salah-salah disambar iblis.” Ayah mengingatkan. “Sekarang kita ke surau.”
Sehabis sembahyang aku merenung di dalam bilik. Rupanya hari ini berlangsung dihiasi berbagai peristiwa yang mendebarkan. Sejak pagi aku sudah berdebar-debar menunggu pengumuman ujian akhir. Aku tidak terlampau bodoh. Tetapi, bukan berarti pasti lulus.
Ketika membuat api unggun dan membakar baju-baju, angin bertiup cukup kencang. Kemarau telah berhasil membuat setiap petak ladang menjadi kering, tumpukan jerami bertebaran di mana-mana. Tentu kami berdebar-debar dan selalu terkesiap setiap kali melihat api meliuk ke arah gubuk.
Dan, senja ini: sebuah rencong diwariskan kepadaku! Begitu mendadak, seakan-akan musuh sudah berada di balik dinding rumah. Telinga kami menduga, ada semacam keresek langkah kaki orang jahat yang mendekat. Ya. Aku telah menjadi pemuda!
Ketika Ayah memintaku untuk khitan, Hasan belum lahir. Ia masih berada dalam perut Ibu yang membuncit seperti mendekap ember di balik kain sarungnya. Sedangkan Meutia mulai sekolah seminggu tiga kali di madrasah terdekat.
“Sudah waktunya kamu memotong ujung kulupmu. Itu sumber penyakit! Mau berangkat sendiri atau kuantar?”
Aku terkesima. Mengapa Ayah tidak menunggu aku benar-benar khatam Al Quran dengan tartil dan lafal yang benar? Atau membiarkan aku mengalami mimpi basah yang pertama?
“Tidak!” Seolah Ayah mendengar keragu-raguanku. “Sunat sekarang atau tidak usah masuk ke dalam rumah.”
“Ambillah kain sarung yang baru, Mustafa.” Ucapan Ibu lebih lembut. “Sudah kusiapkan di ranjangmu.”
Aku pun mengangguk. Aku tak pernah tega menolak permintaan Ibu. Sesulit apa pun. Setakut apa pun.
Aku belum menjumpai petualangan yang seru, selain lomba berenang di arus sungai yang deras. Tapi pengalaman dipotong ujung penisku tentu merupakan salah satu keberanian seorang anak laki-laki. Jangan menangis! Ya, jangan menangis Mustafa!
“Aku percaya, kamu bukan anak cengeng, Mustafa!” ujar Ayah membekali perjalananku.
Maka, berangkatlah aku ke seorang mantri sunat. Menyerahkan kelaminku yang gemetar untuk dipotong, dijahit, dan diperban, setelah sebelumnya dibius dengan suntikan di sekitar “burung”-ku itu. Aku meringis saat perih menjalar, menembus tabir anestesi.
Akan tetapi, aku berhasil mempertahankan agar mataku tetap nyalang, tanpa setitik air menggenang di sudutnya. Aku berhasil dan begitu bangga. Aku seorang anak yang berani. Tidak cengeng! Aku hanya malu kepada Ibu yang tak pernah takut untuk melahirkan. Sebentar lagi akan ada bayi ketiga yang melewati pintu rahimnya. Pasti sakit luar biasa, karena ukuran bayi tidak sebanding dengan diameter lubang yang hendak dilaluinya. Itu menurut akalku, yang masih duduk di kelas empat sekolah dasar.
“Inilah anak Ayah yang pemberani.” Ayah menepuk bahuku, ketika sedang kunikmati seekor ayam panggang yang khusus dimasak oleh Ibu. “Aku percaya, kamu bukan anak cengeng!”
Akan tetapi, lihatlah hari ini, di ambang waktu dhuha: ternyata akhirnya aku menangis!
Dadaku seperti mau meledak oleh himpitan kesepian. Padahal, aku tahu, di sekitarku masih ada orang-orang lain yang setengah gila akibat perasaan kehilangan. Ibu-ibu yang putus asa. Anak-anak kecil yang bermain tapi tidak tahu meski mencari pelukan siapa ketika lapar datang. Dan, beberapa tentara yang rindu keluarganya. Juga para relawan yang sudah nyaris mabuk oleh aroma busuk yang melayang-layang sepanjang pekan.
Ketika Ayah meninggalkan tempat permukiman, yang terdiri dari tenda-tenda militer dan sebagian lagi berupa bangunan kayu yang berdiri tanpa fondasi, hanya kulihat punggungnya yang setengah bungkuk. Kemejanya yang lusuh mengandung banyak lipatan di sana-sini, warnanya buram, dan aku tahu itu bukan miliknya, karena diperolehnya dari kardus yang dilempar oleh sebuah helikopter yang gemuruh di suatu siang bermega pekat. Ia tadi berjalan tidak terlampau cepat, tapi jarak antara kami demikian pasti menjadi semakin jauh. Semakin terasa bahwa telah terbentang ruang yang memisahkan kami. Mungkin satu, dua, atau bahkan ratusan kilometer.
Apakah aku masih perlu mencari Meutia? Hasan? Atau ibuku? Yang entah berkubur di mana. Tsunami yang perkasa telah merebutnya dari kami tanpa memberi kesempatan untuk belajar cemburu lebih dulu. Maafkan aku. *